Senin, 6 April 2026

Sekolah Dinilai tak Optimal, DPRD Palu Sarankan Gunakan Zoom Meeting

PALUEKSPRES,PALU- Wabah Covid-19 ikut memengaruhi pola belajar mengajar di sekolah dari tatap muka langsung menjadi virtual dalam jaringan (Daring) telekomunikasi.

Sejumlah aplikasi bisa digunakan untuk itu. Salahsatunya aplikasi zoom meeting. Dengan aplikasi ini, guru bisa tetap bertatap muka dengan siswanya melakukan kegiatan belajar mengajar.

Sayangnya, sekolah di Kota Palu tidak semua melakukan hal tersebut. Akibatnya, penyerapan materi pelajaran tidak optimal. Hal ini dikawatirkan membuat peserta didik di sekolah lambat memahami materi pelajaran.

Demikian pendapat Anggota DPRD Palu, Marcelinus. Kondisi demikian kata Marcelinus, kini mulai memicu protes orang tua murid di sejumlah sekolah.

Menurutnya, banyak peserta didik pada kelas 1 tingkat sekolah dasar yang sama sekali belum dapat mengeja bahkan membaca.

Pasalnya kata dia, pihak sekolah, utama berstatus negeri, tidak melakukan pola belajar mengajar dengan aplikasi zoom meeting tersebut. Umumnya hanya melalui group-group Watsapp.

“Kalau hanya lewat Watsapp, murid hanya disodorkan buku tema dan sub tema untuk dikerjakan sendiri di rumah. Tidak diajarkan langsung,”kata Marcelinus, Rabu 25 Agustus 2021.

Akibatnya ungkap Marcel, pihaknya mendapat keluhan orang tua siswa yang mengaku anaknya sama sekali belum dapat membaca meski telah setahun mengikuti pola belajar melalui group Watsapp.

Berbeda halnya jika pola belajar mengajar dilakukan melalui aplikasi zoom meeting. Dimana guru bisa mengajarkan langsung muridnya melalui layar android.

“Ada tatap muka antara guru dan muridnya. Para guru pun sebenarnya bisa melakukan hal itu dari rumah masing-masing juga,”jelas Marcel.

Dengan aplikasi ini, pihak sekolah sebenarnya bisa tetap melakukan proses belajar mengajar layaknya tatap muka langsung. Pihak sekolah juga bisa mengatur konsistensi waktu belajar kepada muridnya.

“Ibaratnya di sekolah. Setiap hari bisa dilakukan dua atau tiga jam. Sehingga anak-anak kita juga terbiasa tatap muka dengan gurunya,”hemat Marcel.

Oleh sebab itu, Marcel, sapaan akrabnya menyarankan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan untuk menekankan pola itu dilakukan pada seluruh sekolah negeri.

“Kan ada dukungan paket data dari Kementerian Pendidikan. Jika dirasa belum optimal, Pemkot sebaiknya memberi dukungan terhadap hal ini misalnya memanfaatkan dana BOS untuk membeli pulsa data bagi siswa tidak mampu,”sarannya.

Pemkot Palu pun sebenarnya dapat membangun kemitraan dengan pihak penyedia layanan telekomunikasi tersebut. Setidaknya untuk memberikan keringanan atas biaya pulsa data yang digunakan untuk kepentingan belajar mengajar di sekolah.

“Kasian anak-anak kita nanti jika tidak ada inovasi-inovasi dalam melakukan pembelajaran. Kita tidak tau sampai kapan wabah Covid-19 ini berakhir,”pungkasnya. (mdi/pe)