Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Daring atau luring?

Dr. Irwan Lakani. Foto: Istimewa

Dr. Irwan Lakani, S.P., M.Si. (Penulis adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako)

HARI Senin (25/10/2021) perkuliahan tatap muka secara luring atau langsung terbatas telah dimulai di Universitas Tadulako. Boleh dikata dari tatap muka menjadi tatap badan. Dari hanya saling menatap wajah di depan layar gawai menjadi seutuhnya bisa melihat badan di ruang kelas.

Tentu bagi mahasiswa lama yang merindukan sejak lama bisa ketemu teman-teman kuliah akan merasa senang. Bagi mahasiswa baru, yang saya maksudkan Angkatan 2020, ini merupakan pengalaman pertama bertemu teman di kelas.

Mahasiswa yang mulai kuliah tahun 2020 dan 2021, adalah mahasiswa Angkatan C-19, mahasiswa yang ujian kelulusannya di SMA/SMK “terbantu” oleh wabah corona sehingga lebih mudah lulusnya, mungkin.

Begitu masuk kuliah pun, merasakan kuliah yang tidak begitu ketat baik masuk kelasnya maupun praktikum dan ujian-ujiannya.

Suasana yang serba dimudahkan ini akan segera beralih menjadi suasana yang agak disiplin. Mengapa masih agak, belum sangat disiplin? Karena pertemuannya masih terbatas fifty-fifty antara Nomor Induk Mahasiswa genap dan ganjil.
Saat mahasiswa berstambuk genap, istilah Belanda yang masih dipakai stamboek, masuk kelas, mahasiswa stambuk ganjil masih bisa santai kuliah dari kos-an atau rumah.

Setelah lebih dari setahun sejak April 2020 lalu perkuliahan langsung dipending, ruang-ruang kuliah mulai dibuka pada akhir bulan ini. Ruang kuliah yang tadinya bak ruang berhantu kini akan dipenuhi suara para dosen yang akan unjuk ilmu, ditambah sedikit suara mahasiswa yang terbata-bata menjawab pertanyaan.

Menghadapi suasana yang berbeda itu, perlu kerja ekstra bagi dosen untuk menjadi fasilitator mahasiswa pada proses pembelajaran, agar mahasiswa bisa menggali potensi ilmunya sendiri.
Model pembelajaran Student Center Learning (SCL), memang menghendaki dosen bukan lagi semata-mata sebagai sumber ilmu. Ilmu bisa diperoleh dari berbagai sumber, apalagi zaman IT sekarang ini dengan mudah bisa diperoleh dari ujung jempol di gadget.

Pada awal perkuliahan daring, saya sempat melakukan jajak pendapat secara daring untuk tahu apakah mahasiswa lebih senang kuliah daring atau luring. Istilah daring dan luring ini sendiri mulai berkembang sejak pandemi untuk membedakan kuliah lewat fasilitas internet dalam jaringan (Daring) dan kuliah di kelas dengan sebutan luar jaringan (luring).

Hasil jajak menunjukkan bahwa tidak kurang dari 87% mahasiswa lebih menyenangi kuliah luring dibanding kuliah daring. Mengapa mahasiswa lebih senang kuliah luring? Alasan yang dikemukakan dikarenakan lebih sulit memahami penjelasan dosen saat kuliah daring karena keterbatasan waktu perkuliahan dan kuota internet.

Saat itu untuk kuliah daring, mahasiswa masih membeli sendiri kuota internet, berbeda dengan saat ini sudah disubsidi oleh Kemendikbud Ristek.

Alasan lain yang disampaikan mahasiswa adalah keterbatasan untuk berdiskusi sesama teman, saling bertanya tentang materi perkuliahan menjadi serba terbatas. Hal lainnya adalah kemampuan peningkatan keterampilan melalui praktikum menjadi berkurang. Ini disebabkan bahwa praktek secara langsung di laboratorium atau di lahan dengan dibimbing dosen dan asisten terhenti.

Memang praktikum masih bisa berlangsung dengan dibimbing secara daring oleh asisten untuk dikerjakan di rumah, namun mahasiswa masih belum begitu sreg. Komentar mereka sedangkan dijelaskan secara langsung di kelas belum bisa paham, apalagi dijelaskan secara tidak langsung.

Tentulah mengubah kebiasaan tidaklah mudah, perlu waktu karena kita terbiasa ber-evolusi dibanding ber-revolusi. Beda halnya dengan para pejuang kemerdekaan yang lebih menyukai revolusi dalam mengubah kondisi terjajah. Kondisi sekarang lebih susah mengubah zona nyaman menjadi zona tidak nyaman. Sudah nyaman dengan belajar luring tiba-tiba menjadi daring.

Pertanyaan sekarang adalah, setelah lebih setahun dengan belajar daring, apakah mahasiswa sudah merasa nyaman dengan cara itu? Tentu untuk menjawab pertanyaan ini, saya perlu melakukan jajak pendapat, tapi belum sekarang nanti sepekan atau dua pekan setelah model hybrid ini berlangsung.***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital