Selasa, 28 April 2026
Opini  

Antrean Nomor Delapan Koma Lima

Dr. Irwan Lakani. Foto: Istimewa

Oleh Dr. Irwan Lakani, SP., M.Si. (Koordinator Program Studi Agroteknologi/Dosen Fakultas Pertanian Untad)

JAM di dinding di salah satu Bank unit hari itu pukul 08.33 ketika saya masuk dan mengambil nomor antrean. No 009 tertera di kertas antrean. Tujuanku mengurus penggantian ATM hilang. Security lalu dengan ramah mempersilakan saya duduk di kursi antrean.  Masih ada lima orang di depan menunggu giliran. 

Ada rapat yang harus diikuti secara online pada pukul 10.00. Masih cukup waktu di pikiranku untuk menunggu. Sambil menunggu giliran, dengan segera kubuka HP. Oh, ada webinar online yang akan berlangsung pada jam ini. Okelah bisa sambil dapat ilmu, bisalah mengikuti kegiatan ini.

Waktu berlalu… ke no antrean 007…. Jam 09.12, seorang ibu maju mengurus ini itu di depan customer service. Belum selesai ibu itu, tiba-tiba masuk menyelonong tanpa antrean seorang wanita muda.  Entah urusannya apa bolak balik dijelaskan CS.  Wow…waktu melewati pukul 10.  Alamat rapat tidak bisa diikuti.  Sudah kadung menunggu  hampir 2 jam. Biarlah rapat bisa diikuti staf saja.  Saya arahkan lewat pesan WA untuk menggantikan.  Pukul 10.45 giliran antrean nomor 008.  Berharap tidak lama lagi giliran saya akan dilayani.

Pukul 11.00.  Selesai no 008.  Menunggu akan dipanggil lewat layar komputer di depan.  Namuuuuun,

mendadak masuk lagi wanita muda yang lain. Langsung duduk di depan CS sambil menyerahkan nomor antrean yang tergulung.

Meledak emosiku, tidak dapat tertahan wibawaku yang kujaga sejak datang, hilang teori kecerdasan emosional.  Langsung berteriak ke security. Ini antrean keberapa?!!!! Adakah nomor antrean DELAPAN KOMA LIMA. Meledak suaraku ke seluruh ruangan!!

Security salah tingkah, CS-nya hanya sekedar nengok, entah apa dalam hatinya.

Semua orang yang berurusan dengan Bank, jika ingin ke CS pastinya  sudah harus siap mental, siap ngantuk. Apalagi kalau jumlah  CS-nya terbatas, yang diladeni banyak.  Mungkin sudah dibuat simulasi oleh pihak Bank, sudah diajarkan pula cara menangani pelanggan ngamuk.  Tapi kadang, bahkan sering meleset dari kondisi ideal. Boleh dikata menunggu diantrean CS ibarat menyerahkan kesabaran bulat bulat kepada bank.

Bila bicara budaya antre, mungkin bangsa kita paling dikenal salah satu yang tidak patuh di seantero Asia. Suka nyelonong, berjubel, gak sabaran,  melekat sebagai predikat.  Bahkan, untuk antre mendapatkan vaksin Covid-19, berjubel yang seharusnya dilarang.  

Sepertinya sudah basi membahas antre, tidak bisa mengubah kebiasaan. Bahkan dengan model antrean yang diarahkan. Sekalipun dalam kantor yang ber-SOP ketat. Semua bisa diatur.

Kalau cari negara pembanding yang sangat tertib antre, pastilah otak kita langsung segera dapat jawaban dalam sekejap. Jepang. Tidak usahlah kita bahas Jepang. Sudah final mereka. Kita-kita inilah yang harus dikuliti, dibedah, bahkan kalau perlu dilihat urutan genom. Mungkin sudah masuk dalam kromosom kita karakter itu. Sudah ada pada  kode genetik dari sononya.

Untuk membahas mengapa tidak mau antre, bukan kapasitas saya menguliknya. Banyak pandangan, hasil penelitian dan analisa para pakar.  Ada juga ulasan budayawan, bahkan komentar netizen di berseliweran medsos.  Tidak hanya itu, juga dianalisa secara matematik dan dibuatkan pula software.  Tapi antrenya hanya terjadi pada keadaan dipaksa. Bagi sebagian besar kita, belum sebagai   sesuatu yang dilakukan atas nurani kesadaran.

Tulisan ini bukan untuk menjudge apalagi menasehati kita untuk antre. Mungkin hanya timbul dari kekesalan. Jadi tidak dapat memberikan solusi. Tapi tak apalah mungkin ada sedikit yang tergugah. Syukur-syukur mau membahas dengan teman-temannya. Menambah satu orang yang berubah dari tak suka antre jadi suka antre sudah bersyukur. Adalah gunanya sedikit dari memencet keyboard.

Ada juga hikmahnya, terima kasih dalam hati buat yang nyelonong bisa jadi sumber inspirasi menulis. semoga.***

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777