Sabtu, 8 Agustus 2026

Cabai Masih Menyumbang Inflasi Tinggi

BERI KETERANGAN:Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar didampingi sejumlah pejabat BPS Sulteng menjelaskan seputar inflasi Sulteng sepanjang awal 2017. Foto Maria Sandipu

PALU, PE – Laju inflasi Sulteng sepanjang awal 2017 mencapai angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng mencatat kenaikan inflasi pada Januari  2017 mencapai 0,29 persen. Dari 0,29 persen itu, kumulatif kenaikan inflasinya selama Januari hingga Februari 2017 mencapai 1,671 persen. Sementara kenaikan berdasarkan Years on Years (YOY) mencapai 4,19 persen.

Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar menjelaskan, ini merupakan kenaikan yang cukup tinggi bila dibanding empat tahun terakhir. Komponen penyumbang tertinggi inflasi di Sulteng dalam dua bulan terakhir sepanjang 2017 masih disuport dari kenaikan cabai dan kenaikan tarif dasar listrik.

“Biasanya Februari itu kita sudah berada pada posisi deflasi. Ternyata, dari Januari sampai Februari masih tinggi. Bahkan cenderung naik,” terang Faizal yang didampingi Kabid Statistik BPS, Wahyu Yulianto, saat merilis nilai inflasi Sulteng, Rabu (1/3).

Mengenai kenaikan harga cabai, Faizal menengarai kenaikannya bisa jadi tak hanya dipicu oleh kurangnya pasokan. Namun masalah  ekonomi ikut mempengaruhi. “Jangan-jangan kita surplus untuk cabe. Tapi karena ini masalah ekonomi-spekulan sehingga terjadi juga pengurangan (stok cabe,red) di Kota Palu,”  ujarnya.

Kabid Statistik BPS Sulteng, Wahyu Yulianto menambahkan dari tujuh kelompok pengeluaran yang mempengaruhi inflasi, terdapat empat kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan.

Peringkat pertama diisi oleh kelompok perumahan, dengan laju kenaikan indeks sebesar 1,87 persen. Kemudian diikuti kelompok transpor, 0,70 persen, kemudian kelompok sandang sebesar 0,37 persen dan makanan jadi sebesar 0,10 persen.

Sementara dari tujuh komponen pengeluaran itu, satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan adalah kelompok bahan makanan. Penurunannya sebesar -1,53 persen.

Meski masih mengalami inflasi namun, ada juga kelompok pengeluaran yang justru tidak mengalami inflasi maupun deflasi. Kelompok pengeluaran itu adalah kelompok pendidikan. Persentasenya sebesar 0,00 persen.

Dari komponen pengeluaran itu, Wahyu menjelaskan dari 0,29 persen kenaikan inflasi, yang mengalami penurunan adalah bahan makanan sebesar -1,53 persen.  Dari kenaikan indeks ini, andil inflasinya sebesar -0,17 persen.
“0,17 ini tentunya tarik menarik. Ada yang naik ada yang turun. Salah satunya cabe,” jelas.
Andi inflasi cabe sebesar 0,21 persen.

“Sementara untuk tarikan lainnya, kita bersyukur untuk beras dengan andil inflasi -0,12 persen,” terangnya.

Kemudian untuk kelompok kenaikan inflasi lainnya yang juga ikut mempengaruhi adalah kelompok perumahan yang kenaikannya sebesar 1,87 persen. Andil inflasinya sebesar 0,431 persen.

“Ini masih dipicu kebijakan pemerintah menaikkan TDL. Andilnya TDL sebesar 0,17 persen. Juga kenaikan upah tukang dan kontrak rumah,” terangnya.

Kemudian untuk kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dengan kenaikan indeks inflasi sebesar 0,70 persen, andil inflasinya 0,129 persen dipicu oleh kenaikan tarif pulsa handphone.

Dengan laju kenaikan inflasi yang cukup tinggi hingga Februari ini, BPS mewanti-wanti semua SKPD terkait agar bekerja keras bersama-sama menjaga stabilitas inflasi agar tidak melonjak dalam sepuluh bulan ke depan.

Posisi Sulteng yang berada pada peringkat ke sebelas laju inflasinya di wilayah Sulawesi, Papua dan Maluku menjadi lampu kuning bagi pemerintah untuk mengawasi laju kenaikan inflasi.

“Dari 0,29 inflasi kumulatifnya selama tahun kalender 2017 sebesar 1,671 persen dan 4,19 persen yoy ini menandakan kenaikan yang cukup tinggi selama empat tahun terakhir untuk Sulteng. Laju inflasi 1,61 persen. Kita lihat bahwa perkiraaan inflasi dari BI adalah 4 plus minus 1. Artinya dari posisi empat kita sudah 1,61 persen. Perhatian semua SKPD dan TPID agar lebih terkendali mengawasi ini,” tekan Wahyu.

(mrs/Palu Ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital