“Kalaupun bisa mendapatkan batu bara, harganya melebihi lonjakan harga minyak goreng. Itu karena harga ekspor batu bara sudah mencapai atap joglo,” kata Dahlan Iskan.
Mantan Menteri BUMN ini menyebut pengusaha listrik dalam negeri harus membeli batu bara dengan harga yang sama dengan pengusaha listrik di Jepang.
Hal itu membuat para pengusaha listrik menyerah. Sebab, harganya cukup mahal.
“PLN sendiri lantas mulai menghemat batu bara dengan cara yang mahal: membeli gas dari LNG. Yang harganya juga lagi mahal-mahalnya,” kata Dahlan.
“Maka, pembangkit-pembangkit listrik ”mahal” dihidupkan dengan bahan bakar LNG yang sangat mahal. Padahal, kalau batu bara cukup, pembangkit jenis itu hanya dihidupkan pada jam-jam puncak: 17.00 sampai 22.00. Yakni, saat orang lebih banyak menggunakan listrik,” tambahnya.
Dikatakan Dahlan, pembangkit listrik yang dihidupkan dengan LNG itu di antaranya pembangkit di Muara Tawar, Muara Angke, dan Tanjung Priok. (ps/pe)






