Menurutnya, bila kenaikan harga minyak goreng hanya karena persoalan distribusi atau permainan sistem dagang, intervensi dapat dilakukan oleh pemerintah.
Menurutnya, kecil kemungkinan, adanya oknum yang melakukan penumpukan stok minyak goreng. Karena kenaikan harga minyak goreng diatas rata-rata harga jual normal.
Demikian juga untuk melakukan penimbunan peluangnya kecil. Sebab perusahaan memproduksi minyak goreng juga sedikit, karena di setiap daerah sudah ada pedagang yang mengorder.
“Kemungkinan dilakukan operasi pasar untuk mengimbangi harga pasaran minyak goreng dengan cara subsidi harga,” ujarnya.
Tetapi, dia belum dapat memastikan apakah subsidi harga minyak goreng dapat dialokasikan, karena dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) 2022 masih dalam proses penyusunan.
“Jadi yang bisa dilakukan, memang subsidi tetap. Kita kan tidak mungkin menurunkan harga para distributor atau Bulog cuman mungkin kita subsidi apa, biar tidak menambah harga jual, atau biaya,” kata dia.
Sekaitan hal ini, pihaknya berjanji terus berupaya untuk mengendalikan harga minyak goreng dan kebutuhan pangan saat ini. Apalagi tambahnya, tiga bulan ke depan masyarakat muslim akan menghadapai Bulan Ramadan serta Hari Raya Idul Fitri.
“Untuk ketersediaan stok jelang bulan suci ramadan, memang kami akan lakukan. Jadi meski harga naik, stok tetap aman,” ujarnya.(asw/paluekspres)






