“Saat ini pemerintah telah membuka kesempatan untuk ‘merdeka belajar’, sementara pendidikan tinggi dituntut untuk responsif dan bijak dalam penerapannya,” ujar Wapres.
“Implementasinya menuntut pendidikan tinggi untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seraya memanfaatkan kemajuan teknologi,” imbuhnya.
Tantangan keempat, tutur Wapres, adalah bagaimana mengimplementasikan iptek sesuai konteks dan kearifan lokal. Seperti dicontohkan STAIS Syaichona Moh. Cholil yang terlahir dari lingkungan pondok pesantren.
“Tujuan kehadiran pondok pesantren pada hakikatnya untuk turut mencerdaskan dan meningkatkan kesejahteraan, khususnya bagi masyarakat di sekitar pondok,” terangnya.
Oleh sebab itu, sambung Wapres, melalui program pengabdian masyarakat, STAIS Syaichona Moh. Cholil dapat menerjunkan tenaga pengajar maupun mahasiswa untuk terlibat dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti pendampingan UMKM halal.
“Saya melihat potensi Kabupaten Bangkalan sangat besar, mulai dari pertanian, perikanan dan kelautan, industri batik, hingga wisata halal. Apabila terus dikembangkan, potensi daerah Bangkalan dapat memberikan sumbangsih nyata dalam mencapai visi Indonesia menjadi pusat industri halal dunia pada tahun 2024,” paparnya.
Tantangan kelima pendidikan tinggi dalam mewujudkan generasi emas berkarakter dan berwawasan global, adalah bagaimana memperluas jejaring kerja sama, baik dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi dan kemasyarakatan, dunia usaha dan industri, hingga media, baik di dalam maupun di luar negeri.
Sebelumnya, Wapres menegaskan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Tahun 2021, persentase penduduk yang menyelesaikan pendidikan S1 hingga S3 pada 2021 meningkat 2,2% dibandingkan 10 tahun sebelumnya.
Namun, angkatan kerja saat ini masih didominasi lulusan SMA dengan proporsi sekitar 32%. Sedangkan persentase lulusan pendidikan tinggi baru sekitar 10% sampai 12% dari 138 juta angkatan kerja pada 2020.
“Ini berarti bahwa kita semua masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja berpendidikan tinggi,” tandasnya. (aaa/PaluEkspres)






