Minggu, 5 April 2026

Aktor Utama Pertanian

Muhd Nur Sangadji/ foto: Ist/PaluEkspres

Ada pengalaman lain yang juga terkait dan menarik. Kejadiannya sekitar tahun 1997 awal. Profesor saya, seorang ahli geografi membawa saya dan kawan kawan kuliah, mengunjungi petani anggur di Perancis. Petani itu mengeluarkan peta rupa bumi yang memperlihatkan luasan kebun anggurnya, dilengkapi informasi tentang jenis tanah dan kesuburannya.

Saya berpikir, mungkin ini bagian dari “smart agriculture” yang lagi ramai diungkapkan orang saat ini. Tentu, sekarang pastilah lebih canggih karena kemajuan IT telah ikut mewarnai. Kita telah tahu tanaman butuh hara apa pada saat kapan. Begitupun berkait pengendalian hama penyakit. Kita juga telah bisa menentukan umur kematangan produk untuk dipanen secara seragam dan seterusnya.

Beberapa saat sesudah kembali ke tanah air. Saya membaca banyak berita miris tentang pertanian kita. Ada minyak sawit (CPO) ditolak konsumen karena bercampur minyak solar. Produk diberi formalin dan bahan berbahaya lainnya. Ada pisang goreng yang digoreng bersama plastik untuk menemukan kerenyahannya. Dan, berbagai berita miris yang menunjukkan ketidak beradabnya kita sebagai bangsa. Bila urusan aktor ini sudah beres, baik kuantitas maupun kualitasnya, berikutnya kita urus ruang nafkah ekologisnya. (Bersambung)

(Penulis, Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)