Minggu, 5 April 2026

Indonesia Pernah Ekspor Gula, Wapres Harapkan Industri Gula Kembali Berjaya

Wapres KH Maruf Amin bersiap-siap mengikuti Munas V APTRI secara virtual/ foto: Setwapres/ PaluEkspres

PALUEKSPRES, JAKARTA— Indonesia pernah menjadi negara pengekspor gula pada tahun 1930-an.

Sayangnya, kini perkebunan tebu di Indonesia belum menunjukan produktivitas yang tinggi. Bahkan Indonesia masih mengimpor gula untuk pemenuhan kebutuhan gula untuk industri.

Karena itu menurut Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin , dibutuhkan formulasi tepat untuk revitalisasi industri gula di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani tebu.

“Saya berharap melalui Munas ini, ada rumusan strategis yang dapat dilaksanakan untuk perbaikan nasib petani dan kemajuan industri gula Indonesia,” ujar Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin ketika menghadiri Musyawarah Nasional V Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) secara virtual, Selasa (22/02/2022).

Meskipun lahan perkebunan tebu di Indonesia cukup luas, namun Wapres menilai hasil perkebunan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan industri gula.

Wapres mengungkapkan, hal ini disebabkan oleh masalah produktivitas perkebunan tebu (on farm) dan pasca panen (off farm).

“Untuk memperbaiki on farm, kita membutuhkan bibit yang unggul, sehingga kualitas dan produksi tebu pun meningkat,” tutur Wapres.

“Dari sisi off farm perlu ada penambahan dan peremajaan pabrik gula,” sambungnya.

Selain kedua masalah tersebut, Wapres mencemati, tata kelola dan iklim juga menjadi faktor penentu industri gula tanah air.