Selanjutnya, kata Wapres, adalah kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia sebagai aset yang tak ternilai. Kepercayaan adalah sesuatu yang dihasilkan, bukan diberikan cuma-cuma, antara lain karena keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan pandemi.
Selama Presidensi di G20, Indonesia menjalankan misinya mengajak negara-negara mengedepankan pemulihan bersama, kata Wapres. Pandemi telah mengajarkan bahwa pemulihan global tidak akan terjadi jika upaya ini tidak melibatkan semua negara di dunia (recover together).
“Hanya dengan pulih bersama, kita dapat tumbuh semakin kuat (recover stronger)”.
Terakhir, kata Wapres potensi besar yang harus terus dioptimalkan untuk mengakselerasi kebangkitan ekonomi nasional adalah ekonomi dan keuangan syariah.
Data Bank Indonesia terbaru menunjukkan bahwa secara keseluruhan pangsa sektor prioritas Halal Value Chain mampu menopang 25,44% ekonomi nasional. Sektor unggulan pada Halal Value Chain tersebut adalah pertanian, makanan halal, pariwisata ramah muslim dan fesyen muslim (LEKSI 2021).
Kinerja keuangan syariah nasional pada masa pandemi juga menguat, terutama penyaluran pembiayaan dari industri jasa keuangan syariah yang tercatat tumbuh sebesar 6,18% (year on year).
Potensi, kekuatan dan modal yang dimiliki Indonesia ini kata Wapres, akan menjadi penggerak kebangkitan ekonomi nasional apabila ditindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis yang tepat, baik di tingkat negara, dunia usaha, hingga individu.
Wapres menekankan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembahasan pada forum ini.
Pertama, pengendalian pandemi dan penguatan sistem kesehatan nasional merupakan kunci pemulihan ekonomi.
Pengembangan vaksinasi dalam negeri, penerapan protokol kesehatan, serta layanan kesehatan masyarakat harus terus diperkuat. Termasuk memastikan dukungan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan obat-obatan tetap menjadi agenda penting dan utama di 2022.
Yang kedua, reformasi struktural sebagai prasyarat bagi pemulihan ekonomi juga harus dilaksanakan dan dikawal secara serius. Fokus pembangunan berkelanjutan yang diarahkan pada penguatan sumber daya manusia berkualitas, pembangunan infrastruktur, penciptaan iklim usaha dan investasi yang kondusif, termasuk dukungan kepada pelaku UMKM, penciptaan lapangan kerja berkualitas dan transformasi digital harus dapat direalisasikan dengan baik.
Riset dan inovasi harus diprioritaskan untuk merumuskan kebijakan yang modern dan membangun sistem yang lebih tahan akan guncangan krisis di masa depan.
Begitu pula dengan transformasi ekonomi berkelanjutan yang sudah kita arahkan menuju green economy dan blue economy, perlu terus dikembangkan dengan partisipasi inklusif.
Yang ketiga adalah posisi Indonesia di berbagai forum internasional juga harus dioptimalkan, khususnya Presidensi G20 tahun ini.
“Kita ingin meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, industrialisasi, penguasaan teknologi, hingga penanganan krisis iklim, baik demi kesejahteraan masyarakat Indonesia maupun sebagai kontribusi Indonesia bagi dunia.”






