Sabtu, 4 April 2026

UDANG : Genetik, Lingkungan dan Mekanisasi, Membuat Equador dan India Unggul

Dr Hasanuddin Atjo/ foto: istimewa

Hasil studi literatur, diskusi dengan sejumlah ahli disimpulkan bahwa India, Equador dan Vietnam fokus terhadap tiga aspek; (1) Perbaikan genetik induk yang dipergunakan; (2) Perbaikan lingkungan budidaya dan, (3) Penggunaan mekanisasi dalam usaha budidaya maupun penunjangnya.

Genetik menjadi kunci utama atas keberhasilan budidaya, khususnya jenis udang Vaname asal Amerika Latin yang saat ini mendominasi hampir 80 persen produksi udang di dunia, menggeser udang windu dan jenis udang lainnya.

Di Equador, India serta Vietnam telah hadir Breeding Multification Center (BMC) yang berfungsi sebagai fasilitas membesarkan sejumlah calon induk yang didatangkan dari NBC, (Nucleus Breeding Center) di Hawai dan Florida melalui usaha kemitraan “B to B”.

Calon induk yang dibesarkan di BMC memiliki dua keunggulan (1) Bebas penyakit atau SPF, (Specific Phatogen Free), dan (2) Tahan akan penyakit atau lingkungan tertentu misalnya penyakit White Faeces atau salinitas rendah dan disebut dengan istilah Spesifik Phatogen Resistent (SPR) tertentu.

Dengan strategi seperti itu, maka pembudidaya akan banyak pilihan terhadap benih yang akan ditebar disesuaikan dengan kebutuhan karakter masing-masing wilayah pertambakan. Karena itu genetik dinilai menjadi bagian strategis untuk meningkatkan produksi.

Sebagai contoh ketersediaan dan keterjangkauan protein ternak unggas seperti ayam merupakan kontribusi dari kesuksesan dalam perbaikan genetik, menyebabkan produksi maupun distribusinya terukur dan mampu dikendalikan.

Mutu lingkungan menjadi strategi kedua untuk peningkatan produksi udang. Lingkungan eksternal dan internal harus dijaga agar tetap layak untuk mendukung kegiatan budidaya. Penurunan lingkungan eksternal tidak bisa dihindari, dan hanya bisa dilakukan menahan laju penurunan kondisi lingkungan itu.

Upaya yang dilakukan antara lain melalui kesesuaian tata ruang, dan penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) serta penanaman mangrove dan usaha budidaya rumput laut yang terbukti mampu menyerap carbon, phospat serta nitrogen yang dalam jumlah lebih berdampak terhadap kesuburan tidak terkendali.

Meningkatkan kondisi lingkungan internal budidaya tidaklah sesulit dengan menahan laju penurunan lingkungan eksternal. Saat ini telah tersedia berbagai teknologi untuk hal itu dari aspek biologi, kimia dan fisika. Mulai dari cara sederhana hingga dengan metoda Resrkulasi.

Mekanisasi menjadi bagian dalam upaya efisien usaha. Di India dan Equador pengolahan lahan tambak tradisional dan di upgrade menjadi tambak teknologi semi intensif dilakukan dengan tractor besar 4 roda seperti halnya pada tanaman pangan.

Kondisi ini bisa dilakukan karena elevasi dasar tambak itu terhadap muka air laut relatif tinggi. Berbeda dengan di Indonesia karena secara umum tambak rakyat di wilayah pesisir dikonversi dari mangrove yang elevasinya berada didalam jangkauan pasang surut, sehingga sulit kering sempurna.

Mekanisasi digital menjadi bagian baharu dari perkembangan usaha budidaya udang. Cara pemberian makanan ke udang menggunakan automatic feeder yang dikontrol dari android menggantikan cara manual. Ke depan lagi dirancang menggunakan pesawat drone untuk kepentingan itu.

*****