Saya senang dengar cerita ini, karena menemukan alasannya. Mengapa dahulu kala, saya sangat bingung membaca tulisannya Brouwer tersebut. Brouwer menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Indonesia dan harus kembali ke negeri Belanda dan kemudian meninggal di sana oleh karena permohonannya untuk menjadi Warga Negara Indonesia tidak dikabulkan.
*****
Hari ini, tanggal 2 Mei 2022, saya melihat koran-koran berhamburan usai sahalat Idul Fitri di lapangan Vatulemo Palu. Memori saya menjalar jauh ke belakang. Saya mengamati, tidak ada orang yang peduli dengan koran -koran itu. Semua lalu lalang sambil menginjaknya.
Barangkali sedikit lagi, akan dikumpulkan oleh para pemulung atau dinas kebersihan. Perasaan ku sedih. Karena, kita tidak terbiasa bertanggung jawab. Korannya dibawa dari rumah. Lalu, dilepas begitu saja di ruang publik, menjadi sampah. Sebab itu, artikel ini saya tulis.
Pesan besar yang ingin saya titip adalah literasi. Agama ini, awal kedatangannya dimulai dengan perintah membaca. Dan, hari wisuda pasca training Ramadhan ini bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional. Hari wisuda itu bernama Idul Fitri. Tidak tahu dirotasi ke berapa atau kapan lagi, hari Idul Fitri ini bertemu dengan hari pendidikan Nasional Indonesia ini. Rugi bila tidak terenungkan. Buktinya, koran-koran lebaran ini berhamburan begitu saja. Padahal, di dalamnya ada begitu banyak informasi, berita dan ilmu pengetahuan terpatri. Sayang sekali. ***
(Penulis, Associate Profesor bid Ekologi Manusia, Pengajar MK Pendidikan Karakter dan Antikorupsi di Faperta Universitas Tadulako).






