The Real Professor

  • Whatsapp
Muhd Nur Sangadji/ foto: Ist/PaluEkspres

(Resepsi Akademik)

Oleh Muhd Nur Sangadji

Istilah ini sesungguhnya tidak pernah ada dalam nomenklatur jabatan akademik. Kemenristek Dikti nomor 164/M/KTP/2019, tentang penyebutan gelar atau jabatan akademik dosen sesuai jenjang jabatan dan pangkat. Ada lecturer, Assisten Professor, Associate Profesor dan full Professor.

Bacaan Lainnya

Saya hanya membaca sematan “the real professor” ini pada postingan beberapa sahabat. Mereka mengalamatkannya kepada kolega yang baru saja ditetapkan sebagai profesor. Sebenarnya, termaktub makna sindiran seolah mau bilang, inilah profesor sesungguhnya. Pertanyaannya, apakah memang ada profesor yang tidak sesungguhnya? (baca; “the un-real professor”).

Entah mau dibandingkan dengan apa. Tapi, diksi “the real professor” itu bisa berkonotasi oposit. Seolah-olah benar, ada profesor yang tidak real (profesor abal-abal?). Boleh jadi, profesor yang proses pencapaiannya menyimpang. Misalnya menggunakan segala cara. Bersekongkol dengan berbagai pihak untuk peroleh apa yang menjadi syarat.Termasuk, memakai karya tulis predator atau plagiat.Membayar dengan mahal dan curang untuk penuhi semuanya. Pokoknya, yang penting prestise teraih.

*****

Boleh jadi, profesor “real” berubah “un-real” oleh perilaku menyimpang (devian behavior). Profesor, tapi perilakunya tidak pantas. Terlibat dalam berbagai sindikat tipu-tipuan. Menjadi otak atau ikut dalam berbagai kegiatan fiktif. Terlibat dalam tindak pidana korupsi (baca; merampok) dan sejenis keburukan lainnya. Kepada semua penyimpangan ini, seorang profesor layak dicabut status keprofesorannya. Dan, inilah “un-real” profesor itu. Bahkan, “the loosing professor”.

Pos terkait