Saya lantas ingat pesan berikut. Saya lupa siapa yang menggoreskannya. Maknanya sangat dalam. “Harmony come from the willingness of understanding. And, the foundamental of understanding is willingness to listen”. (Harmoni itu datang dari kemauan kita untuk saling mendengar. Dan, dasar hakiki dari saling mendengar itu adalah keinginan kita untuk saling mendengar).
*****
Tahun 2018, saat Palu dilanda bencana dahsyat. Ada tiga walikota dari tiga kota di Jepang datang ke Palu. Mereka dihadirkan oleh JICA (Japan Internasional Corporation Agency) di kantor Bappeda Provinsi. Masing-masing kota itu mengurai pengalaman tentang komunikasi Publik pasca gempa. Ada yang bilang pertemuan dengan masyarakat 170 kali. Ada yang tunjukkan data 180 bahkan 210 kali.
Saya bisik bertanya pada Prof. Patta Tope, kepala Bappeda saat itu. Beliau jawab, kita tidak tahu sudah berapa kali kita bertemu dengan masyarakat. Saat itulah saya tersadar. Betapa kita tidak mencatat jumlah dan tahapan pertemuan kita dengan publik untuk setiap urusan pembangunan. Entahlah kalau setiap pertemuan yang tidak terekam jumlahnya itu, kita juga mencatat hasilnya untuk ditindaklanjuti. Inilah pula alasannya, mengapa publik affair menjadi kata kunci yang sangat esensial dalam mengatasi kemacetan komunikasi, sekaligus penemukan solusi.
Beberapa rumusan penyeimbang sebagai referensi gerak, bisa dipakai sebagai ikhtiar. Ramirez yang mengusulkannya. Rumusan itu populer dengan abreviasi “Four Rs” . Empat R tersebut adalah Right (hak), Relationship (hubungan), Responsible (tanggungjawab) dan Revenue (pendapatan). Keseimbangan dari empat R ini diharapkan menjadi salah satu pertimbangan patokan dalam implementasi konsepsi “Public Affair”. Semoga.
(Penulis adalah Assoc Prof Bidang Ekologi Manusia Universitas Tadulako)






