Semiloka membangun kesadaran media dalam mendorong upaya pemenuhan kelompok rentan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, berakhir hari ini, Selasa (15/11/2022).
Kegiatan yang digagas oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (YLBH APIK) Sulteng itu, berlangsung mulai Senin (14/11/2022) hingga Selasa (15/11/2022) di Hotel Santika Palu. Sebanyak 20 jurnalis yang mewakili berbagai media di Kota Palu, antusias mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk menarik karena melibatkan secara aktif para peserta yang pada umumnya jurnalis perempuan.
Kegiatan di hari kedua dimulai dengan paparan materi oleh Sabda Tarotrinarta. Di sesi ini, Taro panggilan akrabnya, mengajak para jurnalis untuk mereview materi hari pertama yang dikaitkan dengan peran jurnalis perempuan pada tugas peliputan keseharian.
Baca juga : Kemenkumham Siap Mendorong Kota Palu Contoh Layanan Berbasis HAM
Salah seorang wartawan dari Harian Sulteng Raya Jane Lestari mencoba berbagi pengalaman untuk penguatan mitigasi peliputan bagi jurnalis perempuan. Sebab, bagi Jane panggilan akrabnya, seluruh desk peliputan memiliki tantangan tersendiri bagi setiap jurnalis perempuan.
Materi selanjutnya dipaparkan oleh Ikerniaty. Praktisi media ini mengulas materi tentang Peran Media dalam Pemberitaan Inklusi dalam persfektif Kerentanan Perempuan sebagai Jurnalis. Sebagai jurnalis yang pernah berkecimpung mulai dari media kampus hingga media mainstream di Kota Palu, mengakui jurnalis perempuan lebih berat tantangannya saat peliputan di lapangan.
“Saya pernah meliput di suatu daerah, soal letak cincin saja di jari akan menjadi perhatian masyarakat sekitar,” kata Iker panggilan akrabnya.
Usai istirahat makan siang, para peserta diajak mempraktikkan materi yang telah diperoleh mulai hari pertama hingga hari terakhir, dengan membuat simulasi kerangka media siber beserta struktur redaksinya. Termasuk isu garapan dan rubrikasi media tersebut.
Keseruan berlangsung saat proses pembuatan simulasi media hingga presentasi. Seluruh kemampuan peserta yang dibagi dalam dua kelompok, coba menerapkan pengetahuan dan pengalamannya selama bertugas sebagai jurnalis. Bahkan, dari dua kelompok tersebut memaparkan struktur redaksi, latar belakang pemilihan isu garapan hingga pemilihan nama-nama rubrikasi. Dan, dari perwakilan dua kelompok tersebut, seluruhnya mempresentasikan secara sempurna ibarat awak media mainstream sedang rapat redaksi. (bid/paluekspres)






