Ketika Reputasi Menjadi Kebutuhan (2-Habis)

  • Whatsapp
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Sulteng, Dr. Hasanuddin Atjo
adv

Reputasi Birokrasi

Reputasi seorang birokrat akan terbangun seiring dengan proses yang bersangkutan melaksanakan tugas dan fungsinya. Seorang birokrat apakah staf maupun pejabat harus memahami bahwa mereka direkrut karena ada masyarakat yang harus dilayani dan diatur.

Bacaan Lainnya

Memahami tugas dan fungsinya saja tidak cukup tetapi harus disertai dengan profesionalisme dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.  Semakin profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, maka reputasinya sebagai birokrat “dimata” masyarakat akan semakin baik.

Pertanyaan yang muncul kemudian faktor apa saja yang akan membuat seorang birokrat atau dikenal juga dengan sebutan Aparatur Sipil Negara, ASN dapat membangun  reputasinya?

Apakah karena pendapatan, lingkungan kerja atau ada faktor lain. Berikut ini dikemukan dua kasus ASN  yang melaksanakan tugas di bidang yang berbeda. Pertama yang bertugas sebagai penjaga palang kereta api yang melintasi jalan umum.

Pekerjaan jenis seperti ini tidak diminati banyak orangdan biasanya menjadi pilihan terakhirkarena membosankan, berpendapatan kecil, lingkungan kerja yang tidak nyaman.
Namun Realitasnya ASN yang bertugas pada posisi ini melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Kalau tidak maka akan puluhan atau ratusan  kecelakaan yang bakal  terjadi.

Kedua adalah ASN bertugas di bidang  perizinan atau jasa pelayanan. Contoh simpelnya petugas pungut  biaya parkir dengan sistem konvensional di pintu keluar seperti bandara.  Kadangkala petugas bekerja kurang profesional seperti tidak memberikan karcis sebagai bukti pembayaran dengan alasan karcis habis atau memberikan karcis kadaluarsa, bekerja lamban atau sengaja memperlambat.

Masih banyak lagi contoh-contoh di bidang perizinan dan pelayanan jasa yang kinerjanya mirip-mirip seperti si pemungut jasa parkir. Padahal pendapatan mereka di bidang ini lebih baik karena ada insentif, lingkungan kerja lebih nyaman bahkan kadangkala ditempatkan di ruang berpendingin.

Dari dua kasus ini memberi gambaran bahwa besarnya pendapatan dan lingkungan kerja yang lebih nyaman bukan menjadi faktor utama seorang ASN membangun reputasinya.

Membangun Reputasi

Reputasi itu pada hakekatnya identik dengan sebuah keahlian, kemudian keahlian itu berhubungan dengan kompetensi dan karya nyata. Oleh karena itu seseorang yang memiliki reputasi pasti memiliki kompetensi dan karya nyata yang bermanfaat.

Dalam mengukur kompetensi ada tiga faktor yang harus dievaluasiyaitu pengetahuan, ketrampilan dan perilaku atau attitude kerja. Dalam banyak kasus reputasi itu lebih ditentukan oleh perilaku kerja atau attitude seseorang seperti sang penjaga palang pintu Kereta Api yang dengan ikhlas, konsisten dan tanggung jawab menutup dan membuka palang pintu.

Sebaliknya petugas pemungut jasa parkir cenderung kurang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

Pimpinan sangat berperan dalam  mengembangkan reputasi staf yang menjadi kendalinya.Pimpinan harus mampu memetakan minat dan bakat dari stafnya.  Berdasarkan hasil pemetaan itu, maka  rekruitmen pada jabatan tertentu disesuaikan dengan minat dan bakat itu.

Selanjutnya pimpinan mengarahkan dan mendorong staf tersebut untuk mendalamidan mengasah  minat maupun bakatnya.

Dan dalam kurun waktu tertentu melalui pendampingan yang berlanjut, maka staf tersebut akan menjadi ahli dibidangnya.

Hal yang terpenting dalam membangun reputasi itu bahwa baik pimpinan maupun staf  keduanya mau berubah, “membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa”.

Mengakhiri tulisan ini maka upaya  membangun reputasi dapat dilakukan dengan lima pendekatan yaitu mengembangkan 5 Kapasitas yang disingkat menjadi 5 K (kompetensi, komitmen, konsistensi, koneksitas  dan kecepatan)dan secara paralel  melatih menerapkan budaya kerja 5 AS (cerdas, keras, mawas, tuntas dan ikhlas). Semoga.

Hasanuddin Atjo merupakan Kadis Kelautan Perikanan Sulteng

Pos terkait