Senin, 6 April 2026
Opini  

Kematian Nasehat Buat Kita

Oleh: Abdul Hamid, S.Ag (KUA Poso Pesisir)

Dalam sebuah ungkapan kata-kata bijak, “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya.” (Umar bin Khattab).
Kita bisa melaksanakan ibadah, menanggalkan kesibukan dunia sejenak ini bukan karena kekayaan kita, karena makin banyak orang kaya makin lupa terhadap ibadah makin susah melangkahkan kakinya untuk datang salat berjamaah. Kita bisa melaksanakan panggilan Allah shalat berjamaah sebagai kebutuhan kita, bukan karena jabatan kita, karena makin banyak orang yang dikasih oleh Allah jabatan justru makin susah melaksanakan ibadah, karena kesombongan, keangkuhan, rasa memiliki, merasa lebih dari yang lain. Bahkan, fenomena seperti itu berlaku sekarang ini.

Maka kita harus mengingat Allah SWT, apabila tidak merugilah kita, akan membuat makin sulit melaksanakan kehusyu’an ketika melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Nakin banyak orang menjadi sarjana, orang-orang menjadi pintar tapi tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntutan Allah dan RasulNya.
Saudaraku, Kita tidak pernah diminta untuk menjadi orang yang beriman kepada Allah SWT, tetapi pada hari ini Allah sudah mentakdirkan kita menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Karena itu, akan menjadi bekal kita menghadap ilahi rabbi.

Dari itu banyak-banyaklah mengingat mati, sebagai takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, Kita tidak dapat lari darinya. Satu kelemahan kita, manakalah di depan kita telah nampak kemewahan dunia, maka kita mudah untuk tidak taat menjalankan perintah Allah. Tetapi manakalah kita sakit, tertimpa cobaan, barulah hati ini begitu mudah mencari dan mengeluh kepada Allah, seakan kita sudah ditinggalkan Allah SWT. Tetapi sebenarnya kitalah yang melupakan Allah SWT.
Makanya saudaraku, di manapun kita berada dalam situasi bagaimanapun, biasakan untuk senantiasa berzikir mengingat Allah. Dengan mengingat Allah maka kita akan terjaga untuk berbuat maksiat. Jangan jatuhkan harga dirimu untuk mencari ketenaran, maka yakinlah ketika kita sehat kita akan didekati oleh orang-orang yang tidak kita ketahui tujuannya. Manakalah kita sakit, maka ke mana mereka? Maka berhati-hatilah memilih teman.

Wahai saudaraku seiman, di saat kesibukan kita dalam menjalani kehidupan dunia ini, terkadang kita lupa dengan sebuah kematian yang akan memberikan nasehat kepada kita. Itulah sebabnya untuk menjadikan kematian sebagai nasehat, setidaknya ada beberapa hal yang harus kita renungkan dalam hidup ini, yaitu:
“Bahwa kematian itu untuk seluruh mahluk’ di manapun dan bagaimanapun keadaannya, setiap insan pasti akan mengalami kematian, tidak terkecuali bagi mereka yang kuat, kaya, para pejabat, presiden bahkan malaikatpun akan mengalami kematian.
Artinya :“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”.

Mati tidak memberikan batas waktu, tidak berpihak dan tidak memberikan peluang sedikitpun untuk bisa ditoleransi. Jika janji itu sudah tiba, maka kematian tidak bisa dimundurkan atau dimajukan walau sedetik saja.

Artinya : “Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (Surat An Nisa’: 78)

Secara sunnatullah, jika seseorang sudah mati dan telah meninggalkan alam dunia ini untuk selamanya, maka orang tersebut tidak dapat kembali hidup di dunia lagi. Maka dari itu, sebelum kematian itu datang, jadikanlah kematian itu sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi kita selagi kita masih hidup di dunia ini. Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka kematian yang dia alami tidak selesai pada proses kematian itu saja. Akan tetapi secara hakiki, kematian yang dialami setiap manusia adalah awal baru untuk kehidupan di akhirat, di mana setiap manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas kehidupan yang telah diberikan Allah SWT kepadanya. Sebab Allah swt menciptakan kita manusia.
Mengingat mati tentunya akan secara langsung menasehati kita untuk tidak berbuat dosa dan maksiat. Sebab, jika dosa dan perbuatan maksiat itu terus dilakukan dan pada akhirnya kematian itu datang, maka hal itulah yang akan menjadi penyebab kita mendapat siksaan yang amat sangat pedih.

Intinya adalah dengan mengingat kematian dan menjadikannya nasehat diri adalah amal yang patut untuk dilaksanakan. Dengan mengingat mati kita akan menjadi tahu jika kesempatan untuk hidup kembali ke dunia ini tidak akan ada lagi. Kita juga akan sadar bahwa jika kematian itu telah tiba, maka tidak ada lagi penyesalan. Maka tanamkan pada diri kita untuk mensyukuri kesempatan yang ada selagi sehat, ambilah kesempatan itu untuk berbuat kabaikan.
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)

Akhirnya, mari persiapkan diri kita untuk menghadapi sebuah kematian yang pasti akan kita alami, yaitu dengan memperbanyak amal ibadah dan menjadikan diri sebagai abdi Allah yang selalu tunduk dan patuh kepadaNya. Semoga Allah mematikan kita semua dalam keadaan khusnul khatimah..Amin ya rabbal aalaminn.
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh***