Oleh: Jafar G Bua*
Tahun 1980. Panglima ABRI Jenderal TNI M. Jusuf atas persetujuan Presiden Soeharto meluncurkan sebuah program yang hingga kini masih menjadi bagian dari wajah pedesaan di Indonesia: ABRI Masuk Desa. Sekarang namanya: TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Itu adalah sebuah gagasan yang lahir dari pemikiran bahwa kekuatan negara tak hanya berada di kota-kota besar, tetapi juga di desa-desa, tempat rakyat kecil bekerja dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Ini bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi juga tentang merawat semangat kebersamaan, gotong royong, dan pengabdian bagi negeri.
Program ini berakar pada sejarah panjang perjuangan bangsa. Tahun 1945, ketika republik ini baru lahir, tentara dan rakyat berdiri bersama dalam satu barisan. Di desa-desa, para pemuda dengan alat seadanya bertempur demi mempertahankan kemerdekaan. Tidak ada batas tegas antara sipil dan militer; semua adalah pejuang, semua adalah bagian dari republik yang baru berdiri. Sejarah ini tidak hanya tersimpan dalam buku-buku, tetapi juga hidup dalam ingatan para veteran dan para petani yang dulu pernah ikut berperang.
Dalam semangat itu, TMMD hadir sebagai kelanjutan dari cita-cita yang sama: membangun negeri dengan kekuatan bersama. Tentara yang turun ke desa bukan lagi membawa senjata, melainkan cangkul, semen, dan cetak biru pembangunan. Mereka membangun jembatan yang menghubungkan dusun terpencil, membangun jalan yang sebelumnya hanya setapak berlumpur, dan membangun sekolah agar anak-anak desa mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga proyek hati: bagaimana negara hadir di tengah rakyatnya, bukan sekadar sebagai penguasa, tetapi sebagai sahabat dan pelindung.
Dalam konteks kekinian, TMMD Ke-123 yang dilaksanakan oleh Kodim 1311/Morowali menjadi bukti bahwa program ini tetap relevan dan terus berkembang. Fokusnya kini semakin luas, tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada aspek sosial dan edukasi. Melalui TMMD Ke-123, tentara bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memperbaiki infrastruktur desa, membangun fasilitas umum, memberikan layanan kesehatan gratis, serta mengadakan program pendidikan bagi anak-anak dan penyuluhan keterampilan bagi warga dewasa. Ini adalah bentuk nyata dari upaya berkelanjutan untuk memastikan bahwa desa-desa di Indonesia mendapatkan perhatian yang layak.
Pembangunan desa melalui TMMD juga memberikan dampak sosial yang tak bisa diabaikan. Dalam prosesnya, interaksi antara prajurit dan masyarakat desa melahirkan kedekatan emosional yang mendalam. Mereka bekerja bahu-membahu, berbagi makanan, bertukar cerita, dan saling belajar. Prajurit belajar tentang ketabahan dan kerja keras petani, sementara masyarakat desa melihat bahwa tentara bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga bagian dari kehidupan mereka.
Jika melihat ke belakang, sejarah desa-desa di Indonesia tak pernah lepas dari peran tentara. Pada masa perang kemerdekaan, desa-desa menjadi basis perlawanan, tempat logistik disimpan, tempat para pejuang berlindung, dan tempat strategi disusun. Desa adalah jantung perjuangan. Maka, TMMD bukan hanya proyek pembangunan, tetapi juga pengakuan bahwa desa adalah bagian penting dari perjalanan bangsa ini. Dan sejarah menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang merawat desa-desa, bukan hanya kota-kota besar.
Lebih dari empat dekade sejak diluncurkan, TMMD telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat pedesaan. Banyak wilayah yang sebelumnya terisolasi kini memiliki akses yang lebih baik, roda ekonomi berputar lebih cepat, dan anak-anak desa memiliki peluang lebih besar untuk meraih pendidikan yang layak. Ini adalah wujud nyata dari pengabdian TNI kepada rakyat, bukan sebagai kekuatan yang menekan, tetapi sebagai mitra yang membangun.
Dalam dunia yang semakin modern, program ini juga mengalami perkembangan. Kini, TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup penyuluhan kesehatan, pendidikan, dan bahkan pelatihan keterampilan bagi masyarakat desa. TMMD Ke-123 Kodim 1311/Morowali menjadi salah satu contoh bagaimana program ini terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Dengan semakin banyaknya keterlibatan pihak-pihak terkait, TMMD menjadi semakin inklusif dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat desa.
Pada akhirnya, TNI Manunggal Membangun Desa adalah bukti bahwa semangat gotong royong, yang menjadi inti perjuangan 1945, masih hidup hingga hari ini. Program ini mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada gedung pencakar langit dan pusat-pusat bisnis, tetapi juga pada sawah-sawah yang hijau, jalan-jalan desa yang kini lebih mudah diakses, dan anak-anak yang bisa pergi ke sekolah tanpa harus berjalan berjam-jam.
TMMD seperti yang disampaikan oleh Dandim 1311/Morowali, Letkol Inf Alzaki, adalah perwujudan dari cita-cita Indonesia yang inklusif, merangkul semua, membangun dari pinggiran, dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.
Bagi perwira peraih Adhi Makayasa Akmil 2004 itu, semangat manunggal ini bukan sekadar proyek pemerintah, tetapi warisan dari sejarah panjang bangsa ini. Dari desa-desa yang dulu menjadi medan perjuangan, kini tumbuh harapan baru. Dan seperti para pejuang 1945 yang tak mengenal lelah, para prajurit yang turun ke desa hari ini adalah bagian dari arus panjang sejarah yang terus bergerak, merajut negeri dengan kerja keras dan pengabdian tanpa pamrih. ***
*Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI, alumni Asia Journalism Fellowship (AJF) Singapura, 2019.






