Minggu, 5 April 2026
News  

Bunda Literasi: Minat Baca Anak Sangat Rendah

Bunda Literasi: Minat Baca Anak Sangat Rendah
Bunda Literasi Diah Puspita menyerahkan piagam kepada para penulis dan penerjemah buku cerita anak dwibahasa, Jumat (24/10/2025), di Hotel Santika Palu. Foto: Fitra

Palu, PaluEkspres.com – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah melalui kegiatan diseminasi Produk Penerjemahan Buku Cerita Anak Dwibahasa tahun 2025, Jumat (24/10/2025), di Hotel Santika Palu.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat upaya pelindungan bahasa dan sastra daerah agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi muda di tengah arus globalisasi yang kian kuat.
Ketua TP PKK Kota Palu, Hj. Diah Puspita, S.Ap, M.Ap, sekaligus Bunda Literasi menjelaskan masih banyak perspektif masyarakat bahwa literasi itu sekadar membaca dan menulis, padahal literasi itu ada banyak hal. Seperti literasi bahasa, budaya, dan digital.

Menurutnya, literasi adalah seperangkat keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk memahami, menginterpretasikan, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk. Lebih dari sekadar membaca dan menulis, literasi mencakup kemampuan berhitung (numerasi), sains, digital, finansial, dan budaya untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

“Saya ingin menyampaikan bahwa literasi di Kota Palu masih memiliki tantangan yang cukup besar, minat baca dari anak-anak masih cukup kurang dengan akses buku yang sangat terbatas dan bahan bacaan lokal masih kurang bervariasi sehingga mengakibatkan minat baca dari anak-anak masih rendah,” kata Diah Puspita selaku narasumber pada Dialog Diseminasi Buku Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2025 yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sulteng.

Sehingga, dengan adanya kegiatan peluncuran buku cerita penerjemahan dwibahasa ini bisa menjadi sebuah solusi kreatif dalam menggerakkan budaya literasi sejak dini. Karena anak-anak sejak usia dini sudah harus diperkenalkan budaya dan bahasa ibu mereka masing-masing.

“Bukan hanya di Kota Palu saja, saya juga orang Padang dan di sana bahasa daerah hampir punah. Karena anak-anak sudah hampir semuanya memakai bahasa Indonesia, sehingga para penerjemah dan teman-teman akademisi, saya harapkan untuk ke depannya bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi dan para pegiat literasi,” imbuhnya.

Ia juga sering menjumpai di setiap bandara, bahasa daerah setempat menjadi salah satu bahasa yang digunakan saat menyampaikan pengumuman kepada pengunjung, bersama dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Kalau boleh jujur, walaupun saya orang Padang tapi saya fasih bahasa Kaili. Karena saya mau belajar, karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Jadi kenapa kita sebagai masyarakat Indonesia tidak mampu menjunjung tinggi bahasa daerah di mana kita saat ini domisili,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, hasil penelitian yang dirilis perpustakaan nasional pada tahun 2024, minat baca secara nasional poinnya masih di angka 60,9 atau masih pada level. Sedangkan untuk minat baca di Sulawesi Tengah masih pada level sangat rendah. “Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama, saya selaku Bunda Literasi dan teman-teman sebagai pegiat literasi, komunitas para pembaca, dan penerjemah ayo kita duduk bersama untuk mencari solusi agar bisa meningkatkan budaya literasi di Kota Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya,” kata Diah Puspita.

Diah Puspita mengakui, tantangan utama yang ada di kota Palu selama ini adalah akses buku yang masih sangat terbatas, terutama di wilayah pinggiran. Tahun lalu menurutnya, ia sempat audiensi ke Kementerian Pendidikan untuk menyampaikan aspirasi dari sekolah Alkhairaat keterbatasan akses membaca buku. Mereka sangat berkeinginan untuk memperbanyak literasi melalui membaca buku.

“Saya sempat berkomunikasi pada kementerian untuk menyampaikan keresahan saya, alhamdulillah mereka sangat terbuka dan mengirimkan begitu banyak buku,” ujarnya.
“Jadi untuk teman-teman yang hadir, apabila ada yang membutuhkan buku, apalagi untuk pelajar dan mahasiswa, mari kita duduk bersama lalu mencari solusinya, agar anak-anak dapat meningkatkan minat literasinya,” tambahnya sebagai catatan dialog diseminasi buku yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sulteng. (fit/paluekspres)