Ia menjelaskan, selain pemutaran film akan ada dialog atau sesi talk show dengan harapan setelah acara ini guru atau siswanya menjadi agen menyebarluaskan nilai-nilai, baik ke teman-temannya atau masyarakat.
Untuk pemutaran film bagi guru karena bangsa ini akut korupsinya, jadi bagaimana mengajak guru bahwa mengajar tidak hanya di kelas saja, tetapi karakter anak-anak dirubah agar tidak menjadi pelaku korupsi.
Karena dalam film ini ada empat sekwer, salah satu korupsi yang paling sederhana untuk anak harus jujur. Contoh terkecil tidak mencontek, mengerjakan PR sendiri.
“Pendidikannya ini mengedukasi, menumbuh kembangkan karakter bahwa korupsi merupakan prilaku yang tidak baik bahkan kejahatannya melebihi namanya pembunuhan dengan korupsi anda membunuh ribuan orang yang seharusnya mendapatkan haknya dari uang negara,” jelasnya.
Ia mengatakan, program ini telah berjalan selama tiga tahun sejak tahun 2014. Untuk Sulawesi Tengah, sudah dua kali dilakukan pemutaran pertama di Kabupaten Donggala dan kedua di Parimo.
Sebelumnya, pihaknya mencoba menawarkan di wilayah Sigi namun responnya kurang bagus. Perlu diketahui, untuk pemutara film bagi wilayah yang tidak memiliki gedung bioskop seperti Parimo.
“Parimo Sendiri responnya sangat bagus dari kesiapan infrastruktur, pendanaan dan lainnya, karena tahun ini pemutaran film sudah terdapat di lima kota besar di Indonesia,” terangnya.
(mg4/Palu Ekspres)






