Minggu, 5 April 2026

G7: Tak Ada Sanksi untuk Syria

”Ada peluang untuk membujuk Rusia menjauhi Assad,” terang pejabat Downing Street 10 tentang hasil percakapan jarak jauh Trump dan May tersebut.

Pada hari yang sama, Trump juga berkomunikasi dengan Kanselir Jerman Angela Merkel lewat sambungan telepon. Presiden ke-45 AS itu berterima kasih kepada perempuan 62 tahun tersebut atas dukungan yang diberikan terkait tembakan Tomahawk Kamis (6/4). Sebanyak 58 Tomahawk yang mendarat di Pangkalan Udara Shayrat di antara 59 yang ditembakkan itu menghancurkan sejumlah jet tempur militer Syria.

Terpisah, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengklaim bahwa serangan Tomahawk itu merenggut seperlima kekuatan udara Syria. Dia yakin rezim Assad akan semakin lemah. ”Aksi balasan yang dilancarkan dengan penuh perhitungan itu menghancurkan gudang senjata dan bahan bakar militer Syria. Kekuatan udara Syria berkurang 20 persen,” katanya.

Namun, Rusia membantah klaim tersebut meski Syria mengaku fasilitas militer dan persenjataannya luluh lantak. ”Hanya enam jet tempur MiG-23 dan beberapa bangunan yang rusak. Di antara 59 rudal yang ditembakkan, hanya 23 yang mendarat dengan tepat di Shayrat,” terang Kementerian Dalam Negeri Rusia melalui salah seorang jubirnya kemarin.

Eskalasi ketegangan Rusia dan Barat itu meningkat setelah sekutu masing-masing kubu saling memublikasikan dukungan. Iran dan Rusia yang membekingi Assad mendapatkan dukungan dari Hizbullah. Sedangkan AS yang menghendaki pergantian rezim menuai dukungan luas dari Eropa dan Timur Tengah.

”Kami rasa, sekarang saat yang tepat menunjukkan kepada Rusia bahwa berpihak pada Assad tidaklah benar,” kata Menlu Jerman Sigmar Gabriel. Namun, sebisa mungkin, pelengseran Assad berjalan dengan damai alias tanpa kekerasan, apalagi aksi militer.

Jerman berharap dialog damai dan proses politik bisa menjadi solusi krisis yang awalnya terpicu demam Arab Spring tersebut.

(AFP/Reuters/BBC/CNN/any)