PALU, PALUEKSPRES.COM – Bagaimana wajah Kota Palu pada era 1980-an? Kini, siapa pun bisa mencoba membuat rekonstruksi visualnya dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Tren mengubah foto masa kini menjadi potret bergaya era 1980-an menjadi salah satu cara menarik untuk bernostalgia. Foto dapat dibuat seolah-olah diambil menggunakan kamera film 35 mm puluhan tahun lalu.
Bukan sekadar membuat warna foto menjadi kusam. AI juga bisa diarahkan untuk mengubah pakaian, gaya rambut, kendaraan, latar, pencahayaan hingga karakter foto agar menyerupai dokumentasi pada era tersebut.
Khusus pembaca di Palu, konsepnya bisa dibuat lebih lokal. Misalnya, foto dibuat seolah-olah diambil di Kota Palu sekitar 1985, ketika suasana kota masih jauh berbeda dibandingkan sekarang.
Hasilnya bisa dibuat seperti foto keluarga, dokumentasi jalanan, foto sekolah, suasana pasar, hingga potret seseorang dengan latar Kota Palu tempo dulu.
Prompt Foto Palu Era 80-an
Untuk mendapatkan hasil yang lebih detail, prompt sebaiknya tidak hanya menyebut “buat foto tahun 1980-an”. Instruksi mengenai wajah, pakaian, kamera, pencahayaan dan lingkungan perlu dibuat secara spesifik.
Berikut prompt yang bisa langsung dicoba:
Gunakan foto yang saya unggah sebagai referensi utama. Pertahankan wajah, identitas, bentuk tubuh, warna kulit, ekspresi dan ciri khas orang dalam foto agar tetap natural dan mudah dikenali. Jangan mengubah identitas orang dalam foto.
Ubah foto ini menjadi rekonstruksi visual bergaya dokumentasi Indonesia pada era 1980-an, dengan suasana Kota Palu, Sulawesi Tengah, sekitar tahun 1985. Buat seolah-olah foto tersebut diambil menggunakan kamera film analog 35 mm pada masa itu.
Sesuaikan pakaian, model rambut, aksesori dan gaya pose dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada pertengahan 1980-an. Gunakan gaya yang sederhana dan realistis, bukan kostum retro yang berlebihan.
Hindari seluruh elemen modern seperti smartphone, kendaraan keluaran baru, papan reklame modern, logo perusahaan masa kini, bangunan kontemporer, lampu jalan modern atau teknologi yang belum ada pada era 1980-an.
Buat latar yang terasa seperti Kota Palu pada sekitar 1985: jalan kota yang sederhana, rumah-rumah dan bangunan bergaya masa itu, pepohonan tropis, kendaraan lama, aktivitas masyarakat lokal dan suasana kota yang lebih tenang. Hadirkan karakter geografis Palu secara natural, termasuk kesan kota tropis yang dikelilingi bentang alam perbukitan dan kawasan pesisir, tetapi jangan membuat detail sejarah yang tidak dapat dipastikan.
Gunakan karakter fotografi film 35 mm: natural film grain, warna sedikit pudar, kontras lembut, sedikit color shift, pencahayaan flash khas kamera film, soft focus tipis dan exposure yang tidak terlalu sempurna.
Tambahkan ketidaksempurnaan analog yang halus seperti debu film, goresan ringan, vignette tipis dan sedikit perubahan warna akibat usia cetakan. Jangan membuat efek vintage terlalu kuat.
Hasil akhir harus terlihat seperti foto tukang foto lokal yang dibuat menggunakan kamera film pada era 1980-an, bukan foto digital modern yang sekadar diberi filter retro.
Gunakan komposisi fotografi dokumenter yang realistis, natural dan sinematik. Rasio gambar landscape 4:3.
Penting: hasil ini adalah rekonstruksi atau interpretasi visual berbantuan AI, bukan foto arsip sejarah. Jangan menambahkan nama tempat, tanggal, tokoh, bangunan atau peristiwa sejarah tertentu yang tidak berasal dari foto referensi atau instruksi pengguna.
Prompt tersebut bisa disesuaikan dengan konsep foto yang diinginkan.
Misalnya, pengguna bisa mengganti latar menjadi rumah keluarga di Palu tahun 1985, sekolah, pasar, kawasan pantai, jalan kota, studio foto atau suasana pesta keluarga.
Cara Membuat Foto Era 80-an di ChatGPT
Caranya cukup mudah.
- Buka ChatGPT melalui aplikasi atau browser.
- Unggah foto yang ingin digunakan sebagai referensi.
- Salin prompt foto era 80-an di atas.
- Tempelkan prompt ke kolom percakapan.
- Tunggu AI menghasilkan gambar.
- Jika hasil belum sesuai, berikan instruksi tambahan.
Misalnya, pengguna bisa meminta:
“Pertahankan wajah seperti foto asli. Buat pakaian lebih khas Indonesia tahun 1985 dan kurangi efek vintage agar terlihat seperti foto film yang benar-benar digunakan untuk dokumentasi keluarga.”
Atau:
“Ubah latar menjadi suasana jalan Kota Palu sekitar pertengahan 1980-an. Jangan mengubah wajah dan bentuk tubuh orang dalam foto.”
Instruksi lanjutan seperti ini dapat membantu AI memperbaiki bagian tertentu tanpa harus membuat ulang seluruh konsep dari awal.
Bikin Foto Jadul, Tapi Tetap Terlihat Natural
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika membuat foto era lama dengan AI adalah penggunaan efek vintage yang terlalu kuat.
Foto akhirnya memang terlihat “jadul”, tetapi justru tampak seperti foto modern yang diberi filter.
Karena itu, prompt perlu menekankan karakter kamera film 35 mm, bukan sekadar warna cokelat atau hitam-putih.
Detail seperti grain, soft focus, pencahayaan flash, sedikit perubahan warna, vignette dan ketidaksempurnaan exposure membuat hasilnya lebih mendekati karakter foto analog.
Pakaian dan lingkungan juga tidak kalah penting. Jika seseorang mengenakan pakaian modern sementara latarnya dibuat tahun 1985, hasilnya akan terlihat janggal.
Bisa Dibuat Jadi Nostalgia Palu
Konsep ini bisa dikembangkan lebih jauh untuk pembaca Palu.
Misalnya, foto seseorang dibuat seolah sedang berjalan di kawasan kota pada 1980-an. Bisa juga dibuat sebagai foto keluarga, foto bersama teman sekolah atau dokumentasi kehidupan sehari-hari.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Foto hasil AI tidak boleh dianggap sebagai foto sejarah asli.
Jika gambar digunakan untuk artikel sejarah, sebaiknya diberi keterangan seperti “Ilustrasi AI”, “Rekonstruksi visual AI”, atau “Ilustrasi suasana Palu era 1980-an”.
Hal ini penting karena AI dapat menghasilkan detail yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan kondisi sejarah sebenarnya.
Justru di situlah menariknya tren ini. Teknologi AI dapat digunakan untuk membangun imajinasi visual tentang masa lalu, sementara foto arsip dan dokumen sejarah tetap menjadi sumber utama untuk membuktikan bagaimana sebuah tempat benar-benar terlihat pada zamannya.
Bagi pembaca Palu, tren foto 80-an ini bukan sekadar soal membuat gambar terlihat tua. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk membayangkan kembali seperti apa kehidupan Kota Palu sebelum wajah kota berubah seperti sekarang.






