Minggu, 20 September 2026

Membaca Van Posso naar Parigi, Sigi en Lindoe: Melihat Sulawesi Tengah di Abad ke-19

A.C. Kruyt (1869–1949) dan Nicolaus Adriani (1865–1926). (Foto direstorasi dan dimontase dengan AI)
A.C. Kruyt (1869–1949) dan Nicolaus Adriani (1865–1926). (Foto direstorasi dan dimontase dengan AI)

Ada buku yang ditulis untuk mencatat perjalanan. Ada pula buku yang, tanpa pernah dirancang demikian, justru menjadi bagian dari sejarah yang ingin ia ceritakan.

Van Posso naar Parigi, Sigi en Lindoe karya Nicolaus Adriani dan Albert Christiaan Kruyt termasuk jenis yang kedua.

Buku ini terbit pada 1898 dalam Mededeelingen van wege het Nederlandsch Zendelinggenootschap, volume 42, halaman 369–535. Isinya adalah catatan perjalanan dua orang Belanda dari Poso menuju Parigi, Sigi dan Lindu, di Sulawesi Tengah.

Lebih dari satu abad kemudian, catatan itu menarik dibaca kembali bukan semata-mata karena siapa yang menulisnya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang sempat mereka lihat dan catat: bagaimana masyarakat Sulawesi Tengah hidup ketika abad ke-19 hampir berakhir, ketika pengaruh kolonial belum sepenuhnya menjangkau pedalaman, ketika agama, adat, perdagangan dan kekuasaan lokal masih bertemu dalam ruang yang sangat dinamis.

Membaca buku itu hari ini seperti membuka sebuah jendela lama. Kacanya tidak sepenuhnya bening. Ada debu, ada goresan, bahkan ada sudut pandang yang jelas-jelas merupakan milik orang Eropa pada zamannya. Tetapi di balik kaca itu, kita masih bisa melihat kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah yang sebagian besar sudah berubah.

Dua orang Belanda memasuki pedalaman Sulawesi

Nicolaus Adriani dan Albert Christiaan Kruyt bukan wisatawan yang kebetulan singgah di Sulawesi Tengah.

Keduanya datang dengan misi keagamaan. Namun dalam perjalanan panjang mereka, perhatian terhadap masyarakat setempat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih luas.

Adriani, yang hidup pada 1865–1926, adalah teolog, misionaris sekaligus ahli bahasa. Ia bekerja di Poso sebagai utusan Nederlands Bijbelgenootschap. Perhatiannya terhadap bahasa-bahasa lokal membuat catatannya tidak berhenti pada nama tempat atau siapa yang berkuasa. Ia tertarik pada cara orang berbicara, istilah yang mereka gunakan dan bagaimana bahasa menjadi bagian dari kehidupan sosial.

Kruyt, yang hidup pada 1869–1949, adalah misionaris Calvinis, teolog dan etnografer. Ia menghabiskan puluhan tahun di Sulawesi Tengah, terutama di Poso. Untuk kepentingan misinya, ia berusaha memahami masyarakat yang dihadapinya: kepercayaan mereka, struktur sosialnya, adat dan hubungan antarkelompok.

Dari pertemuan dua latar belakang itulah lahir sebuah dokumentasi yang kemudian sangat berharga bagi sejarah dan antropologi Sulawesi Tengah.

Tetapi di situlah pula persoalannya.

Mereka melihat masyarakat Sulawesi Tengah dari posisi seorang misionaris Eropa pada akhir abad ke-19. Karena itu, catatan mereka tidak pernah benar-benar netral.

Sulawesi Tengah yang mereka temui

Bayangkan Sulawesi Tengah pada penghujung 1800-an.

Belum ada jalan raya seperti sekarang. Belum ada kendaraan yang menghubungkan Poso, Parigi, Sigi dan Lindu dalam hitungan jam. Pedalaman masih ditempuh melalui sungai, jalan setapak, hutan dan lembah.

Namun keterbatasan hubungan dengan dunia luar tidak berarti masyarakatnya hidup sendirian.

Justru catatan Adriani dan Kruyt memperlihatkan hubungan yang cukup rumit di antara berbagai komunitas. Ada perdagangan, perkawinan, peperangan, hubungan politik dan pengaruh kekuasaan dari wilayah lain.

Mereka mencatat pakaian, bahasa, adat perkawinan, kelahiran, kematian, kepercayaan dan kehidupan sehari-hari. Bahkan terdapat perhatian terhadap kosakata dan variasi bahasa di sejumlah wilayah.

Detail-detail seperti itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi justru dari sanalah kita bisa membayangkan seperti apa masyarakat Sulawesi Tengah lebih dari seratus tahun lalu.

Bukan sekadar siapa rajanya.

Bukan sekadar kapan sebuah perang terjadi.

Melainkan bagaimana orang menikah, bagaimana mereka memperlakukan orang mati, bagaimana mereka berhubungan dengan leluhur, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana sebuah komunitas membedakan dirinya dari komunitas lain.

Dalam pengertian itu, buku tersebut lebih menyerupai sebuah kamera sosial abad ke-19.

Kamera itu memang dipegang oleh orang luar. Tetapi yang tertangkap di dalam lensanya adalah kehidupan masyarakat lokal.

Sigi dan jaringan antarlembah

Salah satu hal menarik dari perjalanan tersebut adalah gambaran mengenai hubungan Sigi dengan wilayah lain.

Catatan mereka memperlihatkan bahwa Sigi tidak berdiri sendiri. Ada hubungan politik dengan masyarakat di wilayah Poso dan daerah sekitarnya. Bahkan mereka mencatat bahwa pengaruh politik Sigi terhadap masyarakat tertentu di wilayah tersebut belum berlangsung terlalu lama.

Informasi semacam ini penting karena membantu kita menghindari gambaran bahwa masyarakat pedalaman Sulawesi Tengah dahulu hidup dalam komunitas-komunitas yang terisolasi.

Tidak sesederhana itu.

Orang bergerak. Barang berpindah. Perkawinan menghubungkan keluarga. Konflik mempertemukan kelompok. Kekuasaan meluas dan menyusut.

Lembah-lembah yang secara geografis dipisahkan oleh gunung dan hutan ternyata tetap terhubung oleh hubungan sosial dan politik.

Poso, Sigi, Lindu dan Parigi bukan dunia-dunia yang berdiri sendiri.

Mereka berada dalam jaringan yang lebih luas.

Sebuah masyarakat yang sedang berubah

Mungkin di sinilah nilai sejarah buku Adriani dan Kruyt terasa paling kuat.

Mereka datang pada sebuah masa ketika Sulawesi Tengah sedang berubah.

Kepercayaan dan adat tradisional masih kuat. Tetapi dunia luar semakin dekat.

Islam telah lebih dahulu hadir di sejumlah wilayah melalui perdagangan dan hubungan politik. Setelah itu, misi Kristen mulai bergerak masuk ke pedalaman. Pada saat yang sama, pengaruh pemerintahan kolonial Belanda juga semakin menguat.

Perubahan agama, karena itu, tidak bisa dipahami hanya sebagai perubahan keyakinan seseorang.

Ketika agama baru masuk, yang ikut berubah bisa sangat banyak: ritual, hubungan keluarga, perkawinan, hukum adat, kedudukan elite lokal, hubungan dengan leluhur, bahkan hubungan antarkampung.

Itulah sebabnya catatan perjalanan tersebut, jika dibaca dari perspektif sejarah, sebenarnya menyimpan cerita tentang sebuah masyarakat yang sedang bernegosiasi dengan perubahan.

Adriani dan Kruyt mungkin datang dengan agenda mereka sendiri. Tetapi tanpa mereka sadari sepenuhnya, mereka juga sedang merekam sebuah dunia yang perlahan berubah.

Ketika perburuan kepala kehilangan tempat

Ada satu bagian lain dari sejarah masyarakat Sulawesi Tengah yang tidak bisa dilepaskan dari konteks zaman itu: tradisi perburuan kepala atau head-hunting, yang dalam literatur Belanda sering disebut koppensnellen.

Bagi masyarakat sekarang, praktik tersebut mudah dilihat semata-mata sebagai kekerasan.

Tetapi dalam konteks masyarakat tradisional, praktik itu memiliki hubungan dengan banyak hal: keberanian, status sosial, peperangan, perlindungan kelompok, ritual dan hubungan antarkomunitas.

Karena itu, berhentinya tradisi tersebut bukan sekadar hilangnya sebuah kebiasaan.

Ia merupakan bagian dari perubahan besar dalam tata sosial masyarakat.

Masuknya agama-agama dunia, semakin kuatnya kekuasaan kolonial dan berubahnya hubungan antarkelompok membuat perang serta perburuan kepala perlahan kehilangan tempatnya dalam kehidupan sosial.

Adriani dan Kruyt, dengan demikian, bukan hanya sedang mencatat masyarakat yang mereka temui.

Mereka juga sedang berdiri di depan sebuah dunia yang perlahan menghilang.

Lindu sebelum menjadi ikon Lore Lindu

Lindu juga menarik perhatian.

Hari ini nama Lindu sangat erat dengan kawasan Lore Lindu. Tetapi pada akhir abad ke-19, wilayah tersebut masih merupakan kawasan pedalaman yang relatif sulit dijangkau.

Catatan Adriani dan Kruyt menjadi salah satu dokumentasi awal mengenai wilayah tersebut. Penelitian mereka pada 1898 bahkan kemudian disebut sebagai penelitian awal terhadap peninggalan monumental di kawasan Lore Lindu.

Yang mereka rekam bukan hanya manusia.

Mereka juga mencatat ruang tempat manusia itu hidup: lembah, jalur perjalanan, permukiman, dan lanskap budaya.

Itu sebabnya membaca catatan mereka sekarang terasa seperti membuka peta lama Sulawesi Tengah.

Nama-nama tempat yang kita kenal hari ini berada di sana, tetapi suasananya berbeda sama sekali.

Belum ada jalan aspal. Belum ada kota seperti yang kita kenal sekarang. Belum ada batas-batas administratif modern.

Yang ada adalah lembah, hutan, danau, kampung, jalur perdagangan dan masyarakat yang memiliki aturan hidup sendiri.

Tetapi jangan membaca mereka sebagai suara terakhir

Ada alasan mengapa karya Adriani dan Kruyt harus dibaca dengan hati-hati.

Mereka bukan pengamat yang berdiri di luar sejarah. Mereka adalah bagian dari proyek misionaris Belanda. Cara mereka memahami masyarakat lokal dibentuk oleh pendidikan, agama dan cara berpikir Eropa pada akhir abad ke-19.

Karena itu, ketika mereka menggunakan istilah tertentu untuk menggambarkan masyarakat lokal—termasuk kategori seperti “primitif” atau “kafir”—istilah tersebut tidak bisa begitu saja diterima sebagai gambaran objektif.

Ada pula persoalan penamaan masyarakat.

Dalam catatan mereka, masyarakat Kaili di Palu, Parigi, Sigi dan Lindu pernah ditempatkan dalam kategori “Toraja”. Klasifikasi semacam ini perlu dibaca dalam konteks pengetahuan kolonial pada masa itu, bukan diterima begitu saja sebagai identitas masyarakat yang bersangkutan.

Di sinilah pembaca modern perlu mengambil jarak.

Ada dua hal yang harus dibaca bersamaan.

Pertama, apa yang mereka lihat dan catat.

Kedua, mengapa mereka melihatnya dengan cara seperti itu.

Keduanya sama penting.

Dari Poso menuju dunia yang telah berubah

Pada akhirnya, Van Posso naar Parigi, Sigi en Lindoe bukan sekadar cerita perjalanan dua orang Belanda dari satu tempat ke tempat lain.

Ia adalah salah satu jendela untuk melihat Sulawesi Tengah pada saat dunia lama sedang berhadapan dengan dunia baru.

Di sana ada masyarakat dengan struktur sosialnya sendiri, bahasa sendiri, kepercayaan sendiri, hubungan politik sendiri dan jaringan perdagangan yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain.

Pada saat yang sama, agama-agama dunia semakin masuk, misi Kristen berkembang, kekuasaan kolonial bertambah kuat dan berbagai adat mengalami perubahan.

Karena itu, buku ini tidak penting karena semua yang ditulis Adriani dan Kruyt pasti benar.

Justru sebaliknya.

Buku itu penting karena catatan mereka memungkinkan kita melihat Sulawesi Tengah dari jarak lebih dari satu abad—sambil menyadari bahwa kamera yang digunakan untuk merekamnya berada di tangan orang luar.

Di antara baris-baris laporan perjalanan itu, kita masih bisa menemukan jejak masyarakat yang mereka temui: cara hidup, bahasa, adat, kepercayaan, hubungan kekuasaan dan lanskap yang sebagian telah berubah.

Itulah yang membuat buku tua ini tetap hidup.

Adriani dan Kruyt mungkin bermaksud mencatat perjalanan mereka dari Poso menuju Parigi, Sigi dan Lindu.

Tetapi bagi kita sekarang, perjalanan itu berubah menjadi perjalanan lain: perjalanan untuk menemukan kembali Sulawesi Tengah sebelum abad ke-20 mengubahnya secara mendalam.

Tentang kedua penulis

Nicolaus Adriani (1865–1926) adalah teolog, misionaris dan ahli bahasa Belanda yang bekerja di Sulawesi Tengah. Ia dikenal karena perhatiannya terhadap bahasa-bahasa lokal dan dokumentasi kebudayaan masyarakat Poso dan sekitarnya. Ia meninggal di Poso pada 1926.

Albert Christiaan Kruyt (1869–1949) adalah misionaris Calvinis, teolog dan etnografer Belanda. Ia mulai menjalankan misi di Sulawesi Tengah sejak awal 1890-an dan selama puluhan tahun bekerja di Poso. Karya-karyanya kemudian menjadi salah satu sumber penting dalam kajian mengenai masyarakat Sulawesi Tengah.

Bibliografi utama

Adriani, N. & Kruyt, A.C. 1898. Van Posso naar Parigi, Sigi en Lindoe. Mededeelingen van wege het Nederlandsch Zendelinggenootschap, Deel XLII, hlm. 369–535.

Adriani, N. & Kruyt, A.C. 1912–1914. De Bare’e-Sprekende Toradjas van Midden-Celebes. Batavia: Landsdrukkerij.

Kruyt, A.C. 1906. Het Animisme in den Indischen Archipel.

Kruyt, A.C. 1938. De West-Toradjas op Midden-Celebes. 4 jilid. Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij.

Noort, Gerrit. 2006. De weg van magie tot geloof: Leven en werk van Albert C. Kruyt (1869–1949), zendeling-leraar in Midden-Celebes, Indonesië. Zoetermeer: Boekencentrum.

Schrauwers, Albert. 2000. Colonial “Reformation” in the Highlands of Central Sulawesi, Indonesia, 1892–1995. Toronto: University of Toronto Press.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam