Minggu, 5 April 2026
Palu  

Generasi Milenial Antusias Bertanya soal Kehidupan Berbangsa

Bangsa-bangsa di Eropa banyak yang hancur berkeping keping karena mereka tidak punya dasar perekat yang kuat seperti halnya Bangsa Indonesia yang mempunyai konsensus empat pilar.

“Karena itu mereka heran dan takjub mengapa bangsa sebesar Indonesia, dengan ribuan pulau, ratusan suku dan bahasa serta agama yang berbeda, namun tetap utuh. Mereka ingin belajar kepada kita soal bagaimana merawat keberagaman,” ungkap Muhidin di depan seratus lebih siswa dan guru SMAN 3 Palu.

Muhidin berpesan di era keterbukaan tanpa batas ini, ancaman terhadap  keutuhan negara bisa datang dari beragam cara dan modus. Namun bagi generasi muda, ancaman paling signifikan adalah narkoba, keberagaman dan radikalisme.

Narkoba yang menyasar generasi muda adalah ancaman nyata terhadap keberlangsungan bangsa ini. Bahkan narkoba dengan beragam jenis varian berbeda, tidak saja menyasar warga usia produktif namun juga usia dini seperti anak usia sekolah dasar.

Di era kompetitif seperti sekarang ini ungkap Wakil Ketua Komisi V DPR RI, generasi pengidap narkoba dipastikan tidak bisa berbuat banyak karena saraf dan fisiknya serta moralitasnya yang rapuh.

“Bagaimana kita mampu bersaing jika generasi kita larut dengan narkoba,” paparnya.

Berikutnya adalah ancaman keberagaman. Ini ancaman lain yang patut diwaspadai. Saat ini  keberagaman sedang dalam cobaan. Padahal kemajemukan adalah sebuah keniscayaan. Umat manusia diciptakan dengan perbedaan karena itu mengingkari perbedaan adalah melawan kodrat. Keberagaman harus diterima sebagai sebuah realitas dalam kehidupan tidak bisa diingkari apa lagi diabaikan.

Terakhir adalah soal radikalisme. Paham radikalisme  menemukan momentumnya karena generasi muda  berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.

“Karena itu saya ingatkan jauhi paham radikalisme, perbanyak baca sejarah perjuangan pendiri bangsa, bagaimana menegakkan bangsa ini di atas keberagaman,” imbau Muhidin.

Pengetahuan yang memadai terhadap empat pilar akan menjauhkan generasi muda dari paham radikalisme dan intoleransi.

Muhidin bahkan memberi respek terhadap penanya yang cukup kritis. Menurut dia, pertanyaan kritis dari siswa menandakan bahwa generasi muda indonesia paham tentang konsep kebangsaan. Misalnya, seperti yang diajukan Hasri siswa kelas 11 SMAN 3 Palu. Menurut Hasri ancaman bangsa tidak sekadar narkoba, radikalisme dan antikeberagaman. Melainkan koruptor.

Ratusan miliar dana publik yang dikorupsi oleh beberapa orang itu juga mengancam kehidupan banyak orang.

Anggaran negara yang mestinya bisa dinikmati publik justru dikemplang segelintir orang saja. Penanya lainnya, bernama Ririn. Siswi cantik ini menanyakan bahasa sebagai salah satu instrumen pemersatu bangsa yang perlu dijaga kelestariannya.

“Bangga terhadap bahasa kita, itu juga merupakan cara awet menyangga persatuan bangsa. Bagaimana kita bangga dengan bahasa jika kita lebih suka menirukan gaya bertutur upin ipin,” celoteh gadis manis ini.

Ahmad Anton salah satu staf pengajar di SMAN 3 Palu, mengatakan, generasi sekarang mereka tetap paham soal pilar bangsa karena di sekolah hal itu juga disinggung. Namun mereka memahaminya dengan cara mereka sendiri-bahkan sangat kritis.

Misalnya, tadi ada yang menyinggung bahwa koruptor harus menjadi musuh bersama karena perilaku mereka berkontribusi terhadap kemerosotan bangsa.

(kia/Palu Ekspres)