Minggu, 5 April 2026
Opini  

Revolusi Sunyi R.A. Kartini

R.A. Kartini, dalam beberapa hal, memang representasi dari tokoh sunyi itu. Ibu Kita Kartini, meminjam judul lagu yang dianggit Wage Rudolf Supratman, memang merupakan kejutan sarat keteladanan bagi kaum perempuan tapi justru ancaman bagi tatanan sosial yang sepenuhnya disangga budaya patriarkhi. Seorang perempuan yang tiba-tiba muncul dari hutan-hutan gelap feodalistikpatriaskhis negeri Hindia Belanda.

Sebagai putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, R.A. Kartini seolah dengan sadar melucuti garis kebangsawanannya dan justru berikhtiar menemukan  jalannya sendiri dalam melepaskan kegalauan lewat pekikan lirisnya meminjam istilah a lyric cry-nya Frank O’conner yang ia terakan dalam peninggalan literernya yang bisa kita baca hingga hari ini.

Pekikan liris yang ia hunus untuk menghadapi pertanyaan tentang kesepian jiwa seorang perempuan
dan pertanyaan tentang tujuan hidup seorang manusia dalam pengertian sesungguhnya.

Aksara memang bisa menjelma kekuatan luar biasa bagi manusia yang telah kehilangan kebebasan dan kekuasaan. Dan, R.A. Kartini dengan sadar memilihnya sebagai kendaraan bagi beragam pikiran dan imajinasinya.

Maka benar belakalah Pramoedya Ananta Toer ketika mengatakan dalam Panggil Aku Kartini Saja, hanya dengan mengaranglah Kartini bisa menunjukkan kekuatannya.

Dengan menengok berbagai literatur kita mafhum bahwa pergumulan hidup Kartini berawal saat ia terpaksa harus menghapus impiannya: terpaksa berhenti sekolah dari Europese Lagere School (ELS) dalam usia belasan tahun.

Pemasungan Kartini untuk meraih impiannya itu, ironisnya, hadir justru dari orang yang paling dekat dengannya: ayahnya sendiri. Ia akhirnya dipingit. Tapi, selalu ada terang dalam gelap sekalipun. Sebab, sejak saat itulah seorang Kartini mulai menulis; di samping menjalin persahabatan dengan Rosa Abendanon yang sering mendukung apa pun yang direncanakan R.A. Kartini.

Dari Abendanon pula Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan surat kabar Eropa. Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar lokal yang diasuh oleh Pieter Brooshoof.  Juga memperoleh Leestrommel, sebuah paketan majalah berisi bacaan bacaan tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dikirimkan oleh toko buku kepada para langganan.

Bermodalkan ―tabungan bacaan‖ itulah Kartini mulai membuat karangan dan mengirimkannya ke salah satu majalah wanita Belanda yang ia biasa baca: De Hollandsche Lelie. Melalui gubahan yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini sesungguhnya memiliki minat baca yang tinggi.