Minggu, 5 April 2026

Kisah Mualaf Cantik yang Jadi Balerina Berhijab Pertama di Dunia

Menjadi objek pro dan kontra serta tak jarang mendapat komentar pedas dan nyinyir di media sosial pada usia belasan tahun tentu bukan hal mudah. Bagaimana Stephanie menghadapinya di usia semuda itu?

”Saya tipikal orang yang cukup percaya diri. Ketika sesuatu terasa tidak mungkin, ketika orang lain mengatakan saya tidak akan mampu, saya tetap fokus pada tujuan,” paparnya ketika menjadi salah seorang pembicara dalam Resonation, konferensi pemberdayaan perempuan di The Kasablanka, Jakarta, Sabtu lalu (29/4).

Stephanie pun kembali ke cita-cita awal dengan semangat baru: menjadi balerina berhijab pertama di dunia. Setelah tiga tahun berhenti dari aktivitas balet, dia harus melakukan usaha ekstra. Di luar kegiatan belajar secara homeschooling, dia berlatih balet dengan keras selama 25 jam per pekan.

Mengenakan kostum balet dengan hijab, Stephanie tidak merasakan kesulitan. Sebab, kostumnya memang dirancang khusus agar membuatnya tetap fleksibel dan nyaman. ”Soal kostum bukan tantangan utama bagi saya,” ujarnya. Justru, Stephanie tampil memukau ketika menampilkan koreografi balet dalam modest ballet costume.

Setelah kembali ke jalur mimpinya sebagai balerina, Stephanie mencoba mewujudkan impian besar lainnya. Yaitu mendirikan sekolah performing arts yang terbuka bagi anak-anak dan remaja tanpa memandang agama, ras, maupun latar belakang.

Gambarannya, sekolah itu nanti punya program-program spesifik untuk memenuhi kebutuhan tiap kelompok. Langkah yang dilakukan Stephanie ialah menggalang kampanye fundraising melalui situs www.launchgood.com pada 2016 untuk mengambil kualifikasi dan diploma dalam rangka mencapai cita-citanya menjadi pebalet profesional.

Lewat kampanye tersebut, kisah Stephanie menjadi viral dan tersebar ke penjuru dunia. Sebanyak 685 orang berpartisipasi sehingga terkumpul donasi hingga 7.047 dolar Australia atau setara Rp 70 juta.