Minggu, 9 Agustus 2026

Sistem Zonasi Penerimaan Siswa Baru, Batas Maksimal 17 Kilometer

PALU EKSPRES, CIREBON – Sistem zonasi penerimaan siswa baru tahun 2017, seperti diatur Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 17/2017, tidak diterapkan untuk jenjang SMA dan SMK.

Kepala Balai Wilayah V Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar), Dra Hj Dewi Nurhulaela MPd mengatakan, acuan yang digunakan ialah Peraturan Gubernur (Pergub) 16/2017 tentang pedoman penerimaan peserta didik baru (PPDB).

“Ada zonasi, tapi menggunakan sistem khusus. Aturan ini sudah kita sosialisasikan,” ujar Dewi, kepada Radar Cirebon, Jumat (26/5).

Dewi memastikan, SMA dan SMK, tidak menggunakan batas kelurahan. Kalaupun ada zonasi yang diatur dalam produk hukum gubernur Jabar itu, batas maksimal 17 kilometer dari sekolah.

Begitu juga penentuan rombongan belajar dan jumlah siswa. “Disdik Jabar punya sistem khusus,” sebutnya.

Dewi menjelaskan, saat mendaftar secara online, calon peserta didik melampirkan scan KTP dan Kartu Keluarga (KK).

Dari data kependudukan akan terbaca alamat calon peserta didik. Dengan sistem general positioning system (GPS), secara otomatis akan menentukan calon peserta didik terdekat dan terjauh.

Sistem khusus ini sangat rahasia. Bahkan, Disdik Jabar sendiri tidak mengetahui operasionalnya, karena dijalankan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tujuannya, untuk mencegah kecurangan dan meminimalisasi titip menitip. Perempuan berkacamata ini optimis dengan sistem yang disebutnya canggih dan update.

“Satu detik setelah penutupan pendaftaran, nama peserta didik yang diterima otomatis langsung muncul,” tuturnya.

Dewi menjelaskan, SMAN 1 dan SMAN 2 Kota Cirebon maksimal 12 ruang kelas dengan rombel per kelas maksimal 36 orang.

Artinya, dua sekolah itu masing-masing maksimal menerima 432 siswa. Lebih dari itu, kepala sekolah bisa dikenakan sanksi.

Mengenai batas maksimal zonasi 17 kilometer, Dewi menyebutkan, tujuannya agar warga Kabupaten Cirebon tidak bersekolah di Kota Cirebon. Sebab, setiap daerah sudah memiliki sekolah.

Semangat pemerataan pendidikan dan prinsip berkeadilan berlaku. Adapun kuota zonasi, untuk SMA maksimal 40 persen. Sedangkan SMK paling banyak 60 persen dari total jumlah peserta didik.

Dari 40 dan 60 persen maksimal itu, masih terbagi lagi untuk siswa miskin dan terdekat. “Kita tidak menerapkan permendikbud, karena kita pakai pergub,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Cirebon Drs Asep Dedi MSi mengatakan, sistem zonasi dengan batas kelurahan untuk SMP dan SD, merupakan langkah baik dalam upaya pemerataan pendidikan.

Sehingga kedepan tidak ada lagi sekolah favorit. “Semua sekolah sama. Saya mendukung sistem zonasi kelurahan,” ucapnya.

Dengan adanya zonasi, Asep menilai, tidak perlu menggunakan ranking nilai. Sehingga semua siswa bisa merasakan akses pendidikan yang sama. Baginya, yang terpenting tidak ada lagi aksi titip menitip.

“Saya kira ini baik, semua sekolah akan menerima siswa sesuai rombel. Tidak ada lagi pilih-pilih dan pemaksaan kehendak,” katanya.

Asep mendesak sistem ini disosialisasikan ke orang tua. Sebab, aksi titip menitip itu kerap dilakukan karena orang tua tidak kuasa menolak keinginan anaknya yang ingin masuk ke sekolah tertentu.

(ysf)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital