Minggu, 5 April 2026

Lima Cara Paling Mudah Merawat Mahkota Miss V

PALU EKSPRES, JAKARTA – Organ intim kewanitaan memiliki karakteristik yang lembab. Sehingga setiap kaum hawa wajib merawatnya dengan rutin. Jangan sampai area Miss V menjadi tempat tumbuhnya bakteri karena pola kebersihan yang tidak dijaga.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb Sp.KK (K) mengajak perempuan jangan salah dalam menjaga kebersihan dan merawat area kewanitaan. Tingkat keasaman (pH) di area organ intim sudah secara alami ampuh melawan bakteri.

“Karena itu membersihkannya hanya sederhana saja, jangan pakai sabun macam-macam. Ada beberapa cara menjaga kebersihan organ intim,” katanya kepada JawaPos.com di Jakarta, Rabu (26/7).

1. Gunakan Sabun Biasa

Seseorang yang memiliki area miss v yang normal dan sehat, tak perlu menggunakan sabun berlebihan apalagi sabun khusus kewanitaan. Hal itu akan mengubah pH yang berfungsi sebagai penangkal kuman yang masuk.

“Harusnya sih kalau orang-orang yang normal dan sehat enggak perlu dibersihkan sedemikian rupa. Cukup saat mandi biasa saja sabunin sederhana. Tak perlu menggosok-gosok atau memakai obat-obatan tertentu. Enggak boleh pakai sabun berbusa banyak,” papar Dokter Poppy, sapaannya.

2. Ganti Celana Dalam

Mengganti celana dalam wajib dilakukan dua kali sehari setiap usai mandi pagi dan sore. Hal itu agar area miss v tetap bersih.

3. Pentingnya Air Usai Buang Air Kecil

Usai buang air kecil, wajib dibersihkan dengan air. Perilaku kehidupan budaya barat yang hanya membersihkannya dengan tisu tentu kurang baik dan kurang bersih.

4. Dikeringkan dengan Tisu

Usai membersihkannya dengan air setelah buang air kecil, ada baiknya menggunakan tisu sampai kering. Barulah setelah itu menggunakan celana.

“Sebaiknya wajib dikeringkan dulu, jangan biarkan Miss V lembab lalu tutup celananya. Itu bisa membuat jamur berkembang,” jelas Poppy.

5. Jangan Pakai Celana Terlalu Ketat

Celana dalam atau denim yang terlalu ketat mengakibatkan sirkulasi udara menjadi terbatas. Hal itu bisa menyebabkan gesekan terhadap daerah organ intim yang tipis sehingga menyebabkan iritasi.

(ika/JPC)