Minggu, 5 April 2026

Dari SD hingga Kuliah, Kok Taunya Hanya Yes-No?

PALU EKSPRES, PALU – Menguasai bahasa asing itu dinilai sangat penting khususnya dalam dunia pendidikan. karena bahasa merupakan alat pergaulan, serta gerbang bagi ilmu pengetahuan. Khususnya dalam hal ini bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional yang paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan.

Selain itu, kata salah seorang Akademisi Universitas Tadulako, Dr. M. Nur Sangadji, bahasa asing juga berperan untuk meningkatkan pendidikan, salah satunya dengan mendapatkan beasiswa.

“Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, sehingga komunikasi para ilmuwan itu disampaikan menggunakan bahasa-bahasa internasional. Olehnya, dari segi urgensinya anak-anak kita harus tahu tentang itu. Kemudian ini juga peluang untuk meningkatkan tingkat pendidikan mereka, yakni dengan mendapatkan beasiswa, karena beasiswa mensyaratkan yang paling utama adalah menguasai bahasa,” ujar Nur Sangadji, saat ditemui, Minggu (17/9).

Saat ini, ia menilai para pelajar Indonesia yang akan melanjutkan studi di luar negeri, masih ketinggalan dibanding pelajar dari negara lain. Dengan kemampuan menguasai bahasa asing, para pelajar dalam negeri, akan bisa bersaing dengan pelajar luar negeri.

‘Kalau anak-anak kita berkompetisi dengan anak-anak bangsa lain, untuk melanjutkan pendidikan ke mana-mana, maka mereka kalahnya di bahasa. Contoh yang dari Malaysia, Singapura atau negara-negara ASEAN lainnya, mereka itu bisa langsung masuk ke Perguruan Tinggi, sedangkan kita masih perlu mencari tempat kursus lagi, jadi kita dari segi kompetensi itu sudah kalah,” lanjutnya.

Alumnus Université Jean Moulin, Lyon, Prancis ini, juga mengkritik metode pengajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris yang selama ini diterapkan oleh sistem pendidikan di Indonesia. Menurutnya, metodologi yang diterapkan selama ini hanya mendorong anak-anak menjadi seorang ahli bahasa, bukan sebagai penutur bahasa yang baik.

Ia mencontohkan, seorang yang belajar 6 tahun di SD, kemungkinan dia belajar bahasa asing 2 tahun di kelas 5 dan 6, kemudian di SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun, berarti telah belajar selama 8 tahun. Ketika masuk di perguruan tinggi, mereka hanya tahu ‘yes’ dan ‘no’.

“Jadi, bagaimana negara berinvestasi pendidikan begitu mahal, tapi hanya mengajarkan dua kata itu untuk bahasa Inggris, hanya satu atau dua orang yang lulus SMA dan bisa berbahasa Inggris, dan itu belum disadari oleh negara hingga saat ini. Oleh karena itu, menguasai bahasa asing sebenarnya sangat mudah, asalkan kita tidak belajar untuk menjadi ahli bahasa, tetapi belajar untuk bisa berbahasa,” tekannya.

Nur Sangadji juga menilai, saat ini girah (semangat) belajar bahasa asing para pelajar di Kota Palu masih belum tinggi, meskipun telah ada beberapa kelompok rutin belajar bahasa asing. Untuk meningkatkan hal ini, kata Nur Sangadji, perlu peran guru sebagai pengajar yang baik, orangtua sebagai pendorong motivasi, serta pemerintah untuk menyediakan fasilitas pembelajaran.

“Pemerintah uruslah gurunya agar berkualitas, kalau mereka melakukannya dengan baik, menurut saya kita bisa mencapai semangat itu,” tandasnya.

(mg2/abr)