PALU EKSPRES, PALU – Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) kembali digelar tahun ini. Sedikitnya 44 item kegiatan pendukung menyemarakkan even yang dihelat untuk memeriahkan HUT Kota Palu tersebut. Even yang kini telah menjadi agenda nasional itu tak pernah lepas dari sorotan dan isu miring banyak kalangan. Umumnya mempertanyakan faedah dari kegiatan itu. Terkait itu, Walikota Palu, Hidayat tidak membantah jika banyak pihak yang memandang sebelah mata even yang ia gagas tersebut. Namun menurutnya ada mimpi besar dibalik pelaksanaan kegiatan itu yang memang masih samar terlihat.
Dia menjelaskan, salahsatu motivasi dan tujuan yang ingin ia wujudkan melalui event itu adalah mendorong Palu sebagai kota jasa. Itu karena mengingat Palu tak bisa mengandalkan potensi sumber daya alam (SDA) untuk di kelola masyarakat. “Pertama yang ingin saya sampaikan kita ingin membangun ekonomi Kota Palu dari sektor jasa,”jelasnya. Jasa yang ia maksudkan adalah produk-produk unggulan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berbasis industri kecil menengah (IKM) atau industri rumahan.
“Kalau berbicara soal jasa, kita tentu butuh konsumen dan berusaha bagaimana agar kita bisa mendatangkan wiasatawan ke sini,”katanya. FPPN yang tahun ini memasuki tahun kedua terang Hidayat, merupakan sebuah bentuk ikhtiar untuk mendatangkan wisatawan itu yang kemudian diharap berbelanja produk-produk Home industri nantinya.
“Cita-cita besar kami, Palu Nomoni ini menjadi pasar untuk produk-produk UKM itu,”ujarnya. Menurutnya, saat ini aktivitas dimaksud mungkin memang belum tampak. Karena dia meyakini satu prinsip, bahwa membangun cita-cita demikian bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Segala sesuatu hemat dia, membutuhkan waktu untuk berproses.
“Ini bagian dari proses yang bergerak. Saya mau bilang begini, dalam sebuah teknik pemasaran, biaya promosi itu memang harus lebih besar dulu. 70 persen promosi selebihnya teknik lain. Nah, Palu nomoni ini adalah bagian promosi itu,”jelasnya.
Berbicara soal kesiapan produk UKM, sejauh ini Pemkot Palu sebutnya telah membina 24 pelaku UKM dengan pola tematik industri rumahan di18 kelurahan. Tahun 2017 ini kebijakan program Pemkot Palu difokus pada penguatan sumber daya manusia (SDM).
“Tahun 2018 nanti kebijakan itu diarahlkan bagaimana menjadikan produk UKM itu unggul dari sisi desain dan kualitas yang akhirnya nanti menjadi produk unggulan pasar,”jelasnya. Hingga pada tahun 2019 mendatang, pihaknya masuk dalam roadmape pengembangan jumlah IKM.
Sehingga pelaku UKM yang tadinya hanya 1 kelompok per kelurahan jumlahnya bisa bertambah. Dalam roadmap, selanjutnya tahun 2020 sudah dalam konsep penguatan produksi. Dititik ini, bila pelaku UKM dianggap kuat, maka 2021 diharapkan sudah bisa mandiri dan dipercaya untuk pinjam kredit pinjaman Perbankan. “Kita libatkan perbankan untuk mendampingi pembukuan bagi UKM sesuai standar perbankan,”tuturnya.
Menurutnya festival Palu Nomoni memang harus berjalan beriringan dengan upaya pembinaan UKM yang saat ini sedang digenjot. “Untuk semua itu, kamipun kemudian akan menggandeng OJK menghitung dampak positif ekonomi yang muncul dari kegiatan itu,”jelasnya lagi.
Palu Nomoni pun lanjut Hidayat juga merupakan sebuah usaha untuk membangun kembali karakter budaya nilai toleransi dan kekeluargaan bagi masyarakat utamanya generasi muda.
“Kegiatan-kegiatan pendukung dalam festival semuanya bertujuan untuk maksud pembangunan karakter itu,”demikian Hidayat.
(mdi/Palu Ekspres)






