Sabtu, 8 Agustus 2026

Adik Kandung Prabowo Beberkan Drama Penunjukkan Jokowi di Pilkada DKI

PALU EKSPRES, JAKARTA – Kemunculan nama Joko Widodo (Jokowi)

dikancah politik nasional bisa dibilang cukup mengejutkan.

Bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2014 lalu, banyak yang heran

dengan penunjukkan mantan Wali Kota Solo tersebut.

Namun, siapa sangka penunjukkan Jokowi di Pilkada DKI Jakarta lalu

melalui drama panjang. Momen krusial ini diungkapkan oleh Wakil

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, saat

berbincang dengan awak media di media center Prabowo-Sandi,

Jakarta, Senin (21/1/2019).

Menurut Hashim, nama Jokowi semula tidak ada daftar nama yang

bakal diusung oleh PDI Perjuangan di Pilkada DKI Jakarta lalu.

Alasannya, ayah dari Kaesangan Pangarep itu dinilai tidak punya

uang oleh Megawati Soekarnoputri dan sejumlah petinggi PDIP

lainnya.

“Waktu itu agak alot, beberapa kali pak Prabowo ketemu ibu Mega,

pernah di Lenteng agung, beberapa kali dan dihadiri beberapa kali

petinggi PDIP. Awalnya mereka tidak mau terima. Mereka bilang pak

Jokowi tidak punya uang,” katanya.

Semula, Adik kandung Prabowo Subianto itu bercerita, PDIP dan

Megawati mengusulkan petahana yakni Fauzi Bowo untuk melaju di

Pilkada DKI Jakarta lalu. Namun kala itu, Prabowo mendesak sang

ketua umum PDIP itu memberikan tiket kepada Jokowi.

“Pak Prabowo yang usulkan Jokowi ke Mega. Pada awalnya Bu Mega

nggak mau ke Jokowi tapi Prabowo desak dan akhirnya Bu Mega

setuju,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hashim mengungkapkan bahwa Prabowo sempat alot untuk

meyakinkan untuk memilih Jokowi kepada Megawati. Namun saat itu

Prabowo berkomitmen untuk memperjuangkan kepala daerah baru.

“Pak Prabowo melihat pak Jokowi sosok seorang kepala daerah yang

jujur, yang baik, dan itulah yang perlu untuk memikirkan Jakarta.

Dan pak Prabowo merasa Jakarta perlu seorang pemimpin yang baru,”

tuturnya.

Atas dasar itu semua, Hashim menyesalkan pernyataan Jokowi yang

menyebut tidak pernah mengeluarkan uang di Pilkada DKI Jakarta

lalu. Padahalnya, dia dan Prabowo merupakan donatur terbesar untuk

pemenangan Jokowi.

“Saya heran waktu di debat (Jokowi) kok bilang nggak pakai uang.

Maaf ya ini tidak logis. Di Indonesia untuk setiap pencalonan

harus ada uang, untuk bayar saksi itu berapa, minimal 100 atau 300

ribu,” pungkasnya.

(igm/jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital