Senin, 6 April 2026
Palu  

Idul Fitri di Tengah Pandemi, Selebrasi yang Tidak Klimaks

BERJARAK - Jamaah perempuan salat idul fitri di Masjid Agung, Minggu 24 Mei 2020. Foto: Yardin/PE

PALU EKSPRES, PALU – Selebrasi yang tidak klimaks. Itulah gambaran sekilas perayaan Idul Fitri tahun ini.
Kumandang takbir dan tahmid membahana memecah langit kota. Meneriakkan pekik kemenangan setelah sebulan penuh melawan nafsu.

Namun pesta puncak kemenangan tahun ini terasa seolah tak tuntas. Virus corona membuat kemeriahan pesta kemenangan ini terasa seperti hari-hari biasa.

USAI SALAT – Warga kembali ke tenda usai salat idul fitri. Foto: Yardin/PE

Suasana ini setidaknya terekam dalam pelaksanaan salat idul fitri di sejumlah masjid. Di Masjid Agung Darusalam misalnya, jamaah dominan hanya diisi penyintas bencana di halaman masjid dan beberapa warga di Jalan WR Supratman. Warga yang datang pun hanya satu-satu. Akses masuk masjid hanya dibuka di bagian utara. Di situ, telah berdiri tiga pria yang mengingatkan warga untuk memakai masker. Mereka akan disuruh kembali mengambil masker agar diperkenankan masuk dalam masjid.

Beberapa jamaah tampak membawa cairan pembersih tangan (hand sanitizer) disemprotkan ke telapak tangan sesaat sebelum masuk masjid. Saat salat dimulai, jamaah yang datang tak sampai 200 orang. Bangunan sementara itu terisi tak sampai separuh. Shaf pria hanya diisi 4 baris. Shaf perempuan 3 baris. Jamaah berdiri dengan jarak semeter sesuai dengan protokol covid 19.

PULANG – Salat Id tak sampai 30 menit. Jamaah bubar menuju ke rumah masing-masing. Foto: Yardin/PE

Khutbahnya pun singkat. Hanya 7 menit. Praktis waktu yang dihabiskan termasuk salat dan khutbah hanya 15 menitan. Tak sampai setengah jam jamaah pun bubar. Ada yang kembali ke rumah. Sebagian besar menghilang di balik tenda. Mereka adalah penyintas bencana 28 September yang belum mendapat hunian permanen. Usai salat jamaah bahkan diminta tidak berjabatangan.

Imam dan khatib Idul Fitri pun tidak diambil dari tokoh luar. Sebagaimana kelaziman selama ini. Imam sekaligus khatib adalah Dagaigul Akbar. Sehari-hari sebagai pegawai sara di masjid itu. Khatib dalam khutbah singkatnya meminta jamaah bersabar menghadapi ujian covid 19. Ia pun menukil sejumlah kisah yang pernah dialami nabi nabi terdahulu.

Nabi Yusuf pernah dikarantina di dalam perut ikan. Usai keluar ia mendapati umatnya telah bertobat. Nabi Muhamad SAW, pernah dikarantina di Gua Hira hingga akhirnya umatnya beriman. Saat ini pun kata dia, covid 19 memaksa orang untuk mengarantina diri di rumah masing-masing. ”Sabarlah dalam ujian ini. Sekali kelak kita akan mendapat hikmah dari kejadian ini,” ulasnya.

ZAKAT TURUN 50 PERSEN

Covid 19 tak hanya membatasi gerak ibadah umat. Virus ini juga membuat zakat fitrah seret tahun ini. Pegawai sara Masjid Agung, Fadlin membeberkan, penurunannya mencapai 50 persen. Lebaran tahun lalu, saat jarak gempa dan idul fitri belum terlalu jauh, beras yang terkumpul mencapai 2.000 kilogram. Turun 50 persen pada tahun ini menjadi hanya 1.269 kilogram. Zakat berupa uang tahun ini terkumpul Rp26 juta lebih. Padahal tahun lalu, uang umat yang dikumpulkan sebesar Rp45 juta lebih. ”Saya menduga, virus korona membuat orang tidak lagi berzakat di masjid,” duganya.

Pemandangan di sejumlah masjid pun nyaris sama. Usai salat warga tak berjabatangan. Kecuali dengan keluarga batih. Rata -rata masjid hanya terisi separuh. Pandemi ini ternyata membuat hari-hari menjadi sama. Tak ada yang istimewa. Bahkan di momen hari raya besar pun. Canda ria sesama kerabat makin berkurang. Larangan keluar rumah membuat hari hari berlalu terasa menjemukan. Sampai kapan seperti ini?. (kia/palu ekspres)