Minggu, 5 April 2026
Opini  

Hajar

Hayyun Nur. Foto: istimewa

Oleh Hayyun (Ketua Cabang APRI Donggala)

Bulan Zulhijjah  1441 Hijriah baru saja berlalu.  Tapi Zulhijjah kali ini,  tak seperti biasanya.  Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.  Akibat pandemi Covid-19, 200 ribu lebih calon haji Indonesia gagal berangkat. Sudah pasti kecewa.  Tentu saja itu sikap batin  yang sangat manusiawi.  Namun itulah keputusan terbaik.  Demi keselamatan dan kebaikan mereka sendiri.  Sesuai prinsip “menghindari bahaya,  mesti dikedepankan ketimbang mengambil manfaat”.  “Daful mafasid muqaddamun min jalbil masalih”.  Terlebih ini bukan kali pertama  haji tak bisa dilaksanakan.  Sepanjang sejarah,  telah 40 kali ibadah haji tak dapat diselenggarakan. Oleh berbagai sebab.  Entah karena perang,  bencana alam,  juga pandemi semacam kali  ini. 

Namun demikian,  bukan berarti monumen hikmah di balik ibadah haji dapat diabaikan begitu saja..  Seperti hikmah universal di seputar Kabah. Kiblat segenap umat Islam sedunia itu. Terdapat begitu banyak peristiwa monumental terjadi di sekitar Ka’bah. Mulai dari sebelum pewahyuaan Alquran, hingga kini. Termasuk di dalamnya peristiwa penaklukan kota Mekah di tahun 630 Masehi. Peristiwa ini terjadi 20 tahun sesudah turunnya wahyu pertama. Namun ribuan  tahun sebelum turunnya            al-Qur’an, tak kurang pula telah terjadi berbagai peristiwa sarat hikmah. Sebut saja dua dia antaranya. Peristiwa yang terkait dengan perjuangan Siti Hajar bersama Ismail A.S. dan kisah penyembelihan buah hatinya bersama Ibrahim A.S. itu. Keduanya terjadi antara 3000 sampai 4000 tahun sebelum Alquran diwahyukan untuk pertama kalinya. Bila yang pertama menjadi cikal bakal lahirnya sumur zam-zam dan kota Mekah, maka yang kedua mewariskan tradisi spiritual berupa ibadah kurban. Sebagai budak.

Tak pelak lagi, kedua peristiwa bersejarah itu melibatkan seorang perempuan. Hajar namanya. Ada beberapa sumber yang berbeda terkait asal usul Hajar ini. Sebagian mengatakan dia adalah seorang budak perempuan kulit hitam berbangsa Koptik. Sumber lainnya menyebutkan sebenarnya Hajar merupakan anak seorang bangsawan Koptik. Kedua sumber ini bisa jadi betul dan saling melengkapi. Boleh jadi Hajar memamg mulanya anak seorang bangsawan. Tetapi oleh suatu pergolakan politik, ditaklukkan oleh penguasa Mesir. Sebagai anak dari bangsawan yang ditaklukkan, telah merubah status sosial Hajar. Dari bangsawan menjadi budak. Itu tradisi yang lumrah terjadi di masa-masa itu.  

Takdir kemudian mempertemukan Hajar dengan Ibrahim A.S. Takdir pula yang merubah nasibnya dari seorang budak perempuan berkulit hitam menjadi istri seorang manusia mulia berjuluk Khalilullah itu. Roda nasibnya terus bergulir pasti. Mengakrabi derita untuk mewariskan monumen sejarah berjuta hikmah bagi peradaban manusia. Hajar. Sejarah pula yang menjadi saksi sepanjang zaman. Betapa Hajar seorang perempuan budak berkulit hitam, telah  memperoleh kemuliaan tertinggi yang tak lekang berbilang abad. Konon, berdasarkan suatu riwayat, jasadnya bersemayam damai dimakamkan di ruang Baitullah, tepat di tiang ketiga. Menakjubkan bahwa bangunan Ka’bah yang dikunjungi jutaan umat Islam sepanjang tahun,  ternyata memanjang ke arah makam perempuan mulia itu. Posisi yang menjadikan ka’bah seolah menghadap ke pangkuannya.

Sebab apa gerangan perempuan simbol keteguhan, kekokohan dan ketegaran hidup ini memperoleh penghormatan sedemikian tinggi? Kehormatan yang bahkan tidak dinikmati  oleh Ibrahim dan Ismail serta para nabi lainnya?

Pastilah ini bukan sekedar kebetulan historis. Bukan pula sekedar untuk dijadikan monumen ingatan. Pun pengetahuan yang pada akhirnya berkerak menfosil di alam bawah sadar kesejarahan kita.

Tidakkah ini sebagai simbol pengajaran Tuhan. Bahwa untuk dapat mengerti  semesta jagad ini,  manusia harus mempelajari dan mengerti akan perempuan. Makhluk Tuhan yang menyimpan begitu banyak misteri. Perempuan  yang  oleh Sang Nabi begitu dijunjung tinggi harkat kehormatannya. Bukan saja sebagai ibu pengasup nutrisi peradaban paling pertama bagi setiap anak. Tetapi bahkan bagi tegaknya peradaban luhur suatu bangsa.  Sebagai tiang negara.

Betapa Tuhan memang telah mentakdirkan perempuan menjadi sosok istimewa nan mulia. Penghantar kehidupan di atas hamparan tikar planet bumi ini.

Sungguh perempuan adalah lambang dan miniatur Ibu Alam Semesta.

Lihatlah, betapa tanah yang kita pijak ini benar-benar berkarakter dan bersifat ibu. Setiap hari kita melukainya.  Memaculinya. Menanaminya untuk menumbuhkan padi dan beraneka jenis tumbuhan. Sehingga  memungkinkan berbagai drama kehidupan berlangsung di atas punggungnya yang begini luas.

Tanah yang kita “perkosa” setiap hari dengan bengis dan semena-mena ini, malah mempersembahkan hadiah tak terhitung.  Berwujud minyak, emas, berlian, batu bara, nuklir, tembaga, gas, mineral dan lainnya. Semuanya  semata untuk kesejahteraan kita. Manusia.  Sang anak yang tak jarang justru alpa berterima kasih dan kerap lupa diri.

Bumi memang benar-benar bersifat ibu. Kokoh, tegar, sabar lagi penuh cinta kasih. Tak ubahnya Siti Hajar. Perempuan yang bersemayam di pojok Ka’bah itu..

Seperti Hajar,  maka para perempuanlah yang memiliki kehormatan tertinggi, atas perkenan Sang Maha Kasih untuk memberikan awal cinta dan kehidupan bagi setiap anak manusia. Untuk seterusnya mengalirkan generasi-generasi penerus bagi peradaban dunia yang lebih baik. ***