Kabar duka datang dari dunia jurnalistik tanah air. H.M. Alwi Hamu, tokoh besar pers nasional sekaligus pendiri Fajar Group, mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 18 Januari 2025, di RS Puri, Jakarta Barat.
Pria berusia 81 tahun ini meninggalkan warisan besar dalam dunia jurnalistik, sebuah jejak yang tak akan pernah pudar.
Setelah disemayamkan di rumah duka di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Hari ini juga, jenazahnya diterbangkan ke Makassar untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Pattene, berdampingan dengan sang istri tercinta, almarhumah Hj. Nuraeni Gani Ottoh.
Lahir di Parepare pada 28 Juli 1944, Alwi Hamu adalah sosok yang sejak remaja sudah menunjukkan bakat besar di dunia tulis-menulis. Ia menerbitkan majalah stensilan semasa SMP dan SMA, sebuah langkah kecil yang kelak membawanya menjadi salah satu tokoh pers berpengaruh bangsa ini, utamanya di Indonesia bagian timur.
Sebagai mahasiswa kala itu, Alwi Hamu tidak hanya menulis, tetapi juga aktif dalam pergerakan. Bersama Jusuf Kalla, Wapres RI 2004-2009 dan 2014-2019 bersama rekan-rekannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia mendirikan buletin IDJO itam BERDJUANG.
Pada 1966, di tengah pergolakan politik, ia dan Jusuf Kalla melahirkan surat kabar KAMI di Makassar. Dedikasinya yang tak kenal lelah bahkan sempat membawanya ke balik jeruji besi selama enam bulan—sebuah pengorbanan yang hanya memperkuat tekadnya untuk menjadikan jurnalistik sebagai alat perjuangan.
Puncak karier monumentalnya saat pada 1 Oktober 1981, ia mendirikan Fajar. Di bawah kepemimpinannya, Fajar berkembang menjadi salah satu koran terbesar di Indonesia Timur, menjadi suara Sulawesi Selatan di panggung nasional. Alwi Hamu tak hanya membangun media, tetapi juga melahirkan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan berita yang jujur dan bermakna.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, dan masyarakat luas. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau adalah tokoh besar yang menjadikan jurnalistik sebagai jalan pengabdian,” ujar Rahman, sahabat dekatnya.
Minggu, 19 Januari 2025, pangkuan bumi Makassar akan menjadi saksi peristirahatan terakhir Alwi Hamu. Namun, semangatnya tak akan pernah hilang. Jejak pena dan keberaniannya akan terus menginspirasi generasi penerus dunia pers Indonesia.
Selamat jalan, H.M. Alwi Hamu. Warisanmu akan terus hidup dalam setiap kata yang ditulis untuk kebenaran. ***






