Bangkok, PaluEkspres.com – Tiga perempuan Thailand berhasil diselamatkan setelah menjadi korban sindikat perdagangan sel telur yang dijalankan oleh kelompok kriminal asal China di Georgia, bekas negara bagian Uni Soviet.
Upaya penyelamatan ini dilakukan atas dorongan Pavena Hongsakula, pendiri Pavena Foundation for Children and Women, setelah menerima laporan dari seorang korban yang telah dibebaskan dan kembali ke Thailand pada September lalu setelah membayar tebusan sebesar 70.000 baht.
Menurut Pavena, korban tersebut mengungkapkan bahwa masih ada perempuan Thailand lain yang terjebak di fasilitas tersebut karena tidak memiliki uang untuk membayar kebebasan mereka.
Polisi Divisi Urusan Luar Negeri, yang dipimpin Pol Maj Gen Surapan Thaiprasert, bekerja sama dengan Interpol dan berhasil membantu tiga korban lainnya kembali ke Thailand pada 30 Januari.
Dalam siaran langsung di halaman Facebook yayasan pada Senin (12/2), salah satu korban menceritakan bahwa ia tertarik dengan iklan lowongan kerja di Facebook yang menawarkan pendapatan 400.000 hingga 600.000 baht.
Korban dijanjikan pekerjaan sebagai ibu pengganti (surrogate mother) di Georgia, yang disebut legal di sana. Pihak yang merekrut bahkan menanggung biaya pembuatan paspor dan perjalanan.
Pada Agustus 2024, ia dan sekitar 10 perempuan lainnya berangkat ke Georgia dengan dipimpin seorang perempuan Thailand yang diyakini bekerja untuk sindikat tersebut. Sesampainya di sana, mereka dibawa ke kompleks berisi empat rumah besar yang telah dihuni sekitar 100 perempuan Thailand lainnya.
Namun, setelah tiba, mereka menyadari bahwa tidak ada pasangan yang mendaftar untuk program ibu pengganti. Sebaliknya, mereka diberikan hormon perangsang ovarium, lalu setiap bulan dibius untuk diambil sel telurnya. Beberapa korban bahkan tidak menerima bayaran.
Sel telur yang dikumpulkan diduga dijual dan diselundupkan ke negara lain untuk keperluan fertilisasi in-vitro (IVF), kata Pavena.
Polisi masih terus menyelidiki kasus ini dan kemungkinan adanya korban lain yang masih perlu diselamatkan.
Berdasarkan catatan Pavena Foundation, sepanjang 2024 tercatat 257 warga Thailand menjadi korban perdagangan manusia, dengan 53 di antaranya ditemukan di Thailand dan 204 di luar negeri. Dari jumlah itu, yayasan telah membantu menyelamatkan 152 korban.
Georgia sendiri tidak memiliki regulasi khusus mengenai ibu pengganti. Meskipun praktik tersebut dianggap sebagai kontrak legal, pemerintah setempat tengah mempertimbangkan untuk melarangnya. ***






