Sabtu, 4 April 2026
Berita  

Lagi-lagi, Kecelakaan Kerja di Kawasan IMIP Morowali Telan Korban Jiwa

Kecelakaan kerja tragis kembali mengguncang industri nikel Indonesia. Pada 21 Maret 2025, empat pekerja PT Morowali Investasi Konstruksi Indonesia (MIKI) tertimbun longsor di Fasilitas Penyimpanan Tailing (TSF) yang berlokasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). (Foto: Arsip YTM)

MOROWALI, PALUEKSPRES.COM – Kecelakaan kerja tragis kembali mengguncang industri nikel Indonesia. Pada 21 Maret 2025, empat pekerja PT Morowali Investasi Konstruksi Indonesia (MIKI) tertimbun longsor di Fasilitas Penyimpanan Tailing (TSF) yang berlokasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Satu pekerja berhasil selamat, sementara satu orang, yakni Demianus, ditemukan tak bernyawa lagi. Kemudian dua lainnya, yakni Irfan Tandi dan Akbar masih dalam pencarian hingga hari ini.

Peristiwa ini kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi para pekerja di salah satu pusat industri nikel terbesar di dunia. PT MIKI adalah kontraktor PT QMB New Energy Materials, perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Tiongkok yang beroperasi di IMIP. Yayasan Tanah Merdeka (YTM), organisasi advokasi lingkungan, menegaskan bahwa kecelakaan terjadi di fasilitas penyimpanan tailing yang dikelola PT QMB di kilometer 8 kawasan tersebut.

“Kami melihat bahwa insiden ini erat kaitannya dengan buruknya pengelolaan limbah tailing di IMIP, yang saat ini digunakan oleh PT Huayue Nickel Cobalt dan PT QMB New Energy Materials,” kata Richard Labiro, Direktur Pelaksana Yayasan Tanah Merdeka. “Tailing merupakan limbah beracun yang harus dikelola dengan standar keamanan tinggi, namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.”

Limbah Berbahaya dan Ancaman Longsor

Tailing, yang merupakan sisa dari proses ekstraksi nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), diketahui mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) dengan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021, mengkategorikan tailing sebagai limbah B3 dengan tingkat bahaya tinggi yang harus dikelola secara ketat.

Namun, metode penyimpanan tailing dalam bentuk kolam terbuka di tanah justru meningkatkan risiko bencana. Di wilayah Morowali yang memiliki curah hujan tinggi, tailing dalam bentuk bubur dengan kadar air sekitar 30 persen dapat berubah menjadi lumpur dan menyebabkan longsor. “Kami sudah lama memperingatkan bahwa fasilitas penyimpanan tailing di daerah rawan bencana seperti Morowali sangat berisiko. Peristiwa longsor ini adalah bukti nyata,” ujar Labiro.

Fasilitas penyimpanan tailing di IMIP menampung jutaan ton limbah nikel, menjadikannya sangat rentan terhadap curah hujan tinggi. Bahkan, pada Maret tahun lalu, tanggul di fasilitas penyimpanan tailing milik PT Huayue Nickel Cobalt jebol akibat banjir, menyebabkan lumpur beracun mengalir ke Desa Labota dan mengancam ribuan penduduk.

Tanggung Jawab Perusahaan dan Pemerintah

Kecelakaan ini kembali menimbulkan pertanyaan tentang standar keselamatan kerja di industri pertambangan Indonesia, terutama di Morowali. IMIP, yang menjadi pusat produksi bahan baku baterai kendaraan listrik, telah berulang kali dikritik karena buruknya standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3).

Yayasan Tanah Merdeka mendesak pemerintah untuk segera meninjau kembali perizinan fasilitas penyimpanan tailing di IMIP. “Jika standar keamanan dan keselamatan tidak diperbaiki, bencana semacam ini akan terus terulang,” tegas Labiro. Mereka juga meminta agar perusahaan-perusahaan terkait, termasuk PT IMIP, PT QMB New Energy Materials, dan PT Huayue Nickel Cobalt, bertanggung jawab atas kecelakaan ini dan membuka informasi seluas-luasnya kepada publik.

Sementara itu, keluarga korban masih menunggu kabar pencarian tiga pekerja yang tertimbun longsor. “Kami hanya ingin kejelasan dan keadilan bagi mereka yang bekerja di sini,” kata salah satu anggota keluarga korban.

Dengan terus meningkatnya permintaan global terhadap nikel untuk baterai kendaraan listrik, tekanan terhadap industri ini semakin besar. Namun, pertanyaannya tetap: apakah pertumbuhan industri ini sebanding dengan nyawa yang harus dikorbankan? ***