Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Revolusi Sunyi R.A. Kartini

M. Ridho Kholid

FEODALISME begitu nyata di era Hindia Belanda. Feodalisme ketika itu bahkan ikut berperan mengisbatkan patriarkhisme di hampir seluruh sendi kehidupan: para lelakilah pemegang kendali tunggal kehidupan sosial, ekonomi, politik, bahkan hitam-putihnya takdir kaum perempuan.

Kolonialisme jelas melahirkan perbudakan, penistaan harga diri pribumi, dan turut mengokohkan budaya patriakhisme itu. Juga tentu saja, menanamkan benih-benih fasisme. “Penjajahan Belanda itu menghimpun kekuatan dengan perkawinan ratio modern dengan feodalisme Indonesia,” kata Sutan Sjahrir; sehingga menjadi contoh fasisme yang terutama dari fasisme di bumi”.

Menurut Sjahrir, fasisme ini jauh sebelum fasisme Hitler dan Mussolini. Jauh sebelum mereka mendirikan kamp-kamp konsentrasi Buchenwald atau Belsen, Boven Digoel sudah lebih dulu diadakan. Untungnya, di hadapan kuasa bengis kolonialisme yang bersekutu dengan feodalisme lokal yang partriarkhis itu, hadir sosok-sosok seperti Rohana Kudus, Dewi Sartika, Martha Tiahahu, Malahayati, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, juga Cut Nyak Dien.

Merekalah, jika boleh meminjam kata-kata penyair Hartojo Andangdjaja dalam sebuah sajaknya,  “perempuan-perempuan perkasa” yang berfikiran sangat maju.

Perempuan-perempuan yang berusaha menjawab berbagai masalah yang muncul akibat menjadi manusia
terkungkung. Terkungkung dalam struktur kekuasaan sosio-politik ketika itu.

Tanpa mengerdilkan nama-nama besar lain dari para pejuang perempuan yang disebutkan tadi, ada sosok yang terlihat lebih lembut: R.A. Kartini. Ia hanya berjuang dalam ‘kesunyiannya’. R.A. Kartini barangkali bisa disebut sebagai salah satu pahlawan perempuan yang unik. Menarik. Sebab, ia berjuang mencari kebebasan dan kemerdekaannya dengan cara yang lain.

Alih-alih memanggul senjata, seperti Cut Nyak Dien misalnya, ia berjuang merebut kemerdekaan
dengan mengguratkan gagasan-gagasan liberatif yang ia rumuskan dalam kamar yang sunyi. Sendiri.

Begitulah, RA Kartini mungkin sosok yang percaya bahwa ‘kesunyian itu mengandung karunia kebebasan’—’The gift of loneliness, which is the gift of liberty’—seperti suatu ketika kata-kata Chesterton tersebut disitir Goenawan Mohamad dalam sebuah Catatan Pinggir-nya.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital