Panggilan “Pak Haji” kepada ayahanda Cheng Ho itu terus menjadi panggilannya dalam semua literatur. “Semua orang lebih mengenal Ma Hazhi ketimbang Mi Lijin sebagai ayahanda Zheng He,” kata Yang Liyun.
Peran Penting Muslim di Abad Pertengahan
Sebagai bangsa penjajah, sangat wajar jika Dinasti Yuan tidak disukai suku Han yang dominan di Tiongkok saat itu. Selain merasa sebagai bangsa jajahan, ada satu hal lagi yang tidak disukai bangsa Han. Yakni merasa ada diskriminasi.
Kebijakan Dinasti Yuan saat itu memang lebih mengutamakan orang-orang non-suku Han untuk duduk di jabatan strategis. Dari sudut pandang Dinasti Yuan, tentu itu kebijakan masuk akal. Sebab, mereka tahu, jika menempatkan orang-orang Han di jabatan strategis, kejatuhan dinasti mereka akan kian cepat. Sebab, Dinasti Yuan dibangun berdasar superioritas militer bangsa Mongol ketimbang merangkul rakyat Tiongkok.
Situasi seperti itulah yang membuat banyak non-suku Han seperti kakek dan ayah Cheng Ho menjadi pejabat dalam Dinasti Yuan. Khusus untuk umat Islam, banyak orang di Tiongkok yang memercayai akhlak seorang muslim.
Itu terbukti dalam masa akhir Dinasti Yuan. Banyak sarjana maupun jenderal muslim. Di antaranya adalah Jenderal Lan Yu, jenderal kesayangan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming. Jenderal itulah yang menghancurkan Mongol hingga tak lagi menjadi ancaman keamanan bagi Tiongkok.
Namun, pergantian dinasti tersebut membawa petaka bagi keluarga Cheng Ho. “Ayahnya meninggal pada penaklukan Yunnan saat berusia 39 tahun,” kata Yang Liyun. “Tapi, tidak jelas apakah meninggal dalam pertempuran atau menjadi korban dari peperangan itu. Tidak ada keterangan lebih lanjut,” imbuhnya.
“Dari literatur kami hanya disebutkan, putra tertuanya, Wenming, menguburkannya di lereng Gunung Yuesan.”
(*/c9/nw)






