Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Stratifikasi Sosial

Tasrief Siara

Oleh: Tasrief Siara, Praktisi Komunikasi Massa

INI cerita berawal dari sebuah penerbangan domestik yang saya tumpangi. Sesuai standar penerbangan internasional, kepala pramugari mengumumkan sejumlah hal keselamatan, termasuk peragaan cara memakai sabuk, dan pelampung dalam menghadapi kondisi darurat.

Di pesawat itu, sebelum terbang tinggi, seorang pramugari yang masih muda dan cantik  siap menjadi peraga. Kondisi saat itu semua berjalan normal seperti biasanya  pada semua penerbangan.

Menjadi menarik ketika kepala pramugari mengumumkan:  pramugari yang akan menjadi peraga  bernama Juminten. Secara spontan, semua penumpang tertawa dan terbahak, termasuk sang pramugari “Juminten”  menghilang sejenak untuk melepas tawa.

Seorang ibu di samping saya yang juga ikut tertawa bilang, cantik-cantik koq dibilang Juminten.

William Shakespeare boleh bilang, apalah arti sebuah nama. Tapi tak untuk orang Indonesia. Nama itu bisa menjadi penanda seperti apa latar belakang sosial seseorang.

Dalam sistem sosial masyarakat kita, masih sangat sulit dihindari adanya pola-pola pelapisan sosial yang biasa disebut oleh para sosiolog dengan stratifikasi sosial. Sratifikasi ini di zaman lampau memberi garis batas antara para bangsawan dan kawula jelata.

Di zaman digital ini juga masih seperti itu namun bentuknya lain, bisa soal kepemilikan gelar akademik atau kepemilikan harta. Amati misalnya, dalam setiap pesta kawinan, pasti terdapat meja yang terkategori VIP, karena orang yang dipersepsikan VIP itu dipandang tak pantas duduk dengan yang bukan VIP.

Masalahnya, orang-orang yang menempati kotak-kotak stratifikasi itu, terkadang nama-nama mereka juga menyesuaikan dengan posisinya dalam kotak strata sosialnya.  Lihatlah misalnya, hampir semua artis terkenal di Indonesia ini memakai nama yang “direnovasi” sesuai dengan selera pasar masyarakat modern.

Makanya ketika seorang pramugari namanya disebut Juminten, orang-orang pada tertawa karena sepertinya tak elok seorang pramugari bernama Juminten. Dalam komunitas masyarakat Jawa misalnya, mereka yang merasa strata sosialnya ada di lapis bawah, ketika punya anak terkadang menyesuaikan dengan stratatifikasi sosialnya. Kalau ia di lapis bawah cukup Juminten tak boleh Widyaningrum.

Dari cerita itu, saya  jadi teringat dengan novel yang ditulis oleh budayawan almarhum Umar Kayam, judulnya Sang Priyayi. Novel ini menceritakan seperti apa bentuk dari sistem sosial dalam masyarakat jawa awal abad 19,  termasuk pola-pola pelapisan sosialnya.

Dikisahkan dalam novel Sang Priyayi itu, seorang anak dari keluarga lapis  bawah di Desa Wanagali bernama Wage menumpang hidup di rumah seorang ndoro guru. Oleh sang majikan ndoro guru Sastrodarsono, si Wage diganti namanya menjadi Lantip, artinya cerdas dan tajam otaknya.

Lantip rajin dan tekun, termasuk dalam dunia pendidikan. Pada akhirnya Lantip sukses menyelesaikan pendidikannya dan diangkat menjadi seorang guru. Dalam formasi sosial masyarakat kita di zaman lampau, guru adalah sosok yang sangat disegani dan dihormati.

Tempatnya ada di strata atas. Kalau menghadiri “kondangan” harus duduk di kursi paling depan. Masalahnya sang guru yang dihormati ini  punya nama Lantip, sama dengan Juminten. Nama itu dipandang tak sesuai duduk diposisi teratas.

Akhirnya,  Pak Guru Lantip mengganti namanya menjadi Notonegoro.

Bagi saya, sisa-sisa dari pernak pernik formasi sosial masyarakat kita ini, anggap saja  sebuah obyek studi yang memang menarik ditelusuri dan dipahami. Walau Shakespeare bilang: apalah arti sebuah nama, tapi tak untuk orang Indonesia, Juminten tak boleh di posisi pramugari dan Lantip tak boleh diposisi guru. Kalau mau, ganti nama, sama dengan artis-artis kita, sebelum terkenal, segera ganti nama: Jangan Juminten atau Lantip, apalagi Wage.***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital