Di media sosial, sesuatu yang tampak sebagai suara mayoritas belum tentu benar-benar suara mayoritas. Ketika sebuah isu politik tiba-tiba memenuhi linimasa, muncul pertanyaan penting: masyarakat memang sedang ramai membicarakannya, atau ada pihak yang sengaja membuatnya terlihat ramai?
Pertanyaan ini penting karena media sosial kini bukan sekadar ruang percakapan. Ia telah menjadi arena perebutan perhatian. Dalam arena ini, opini dapat diperkuat melalui jaringan pendengung (buzzer), akun anonim, pemengaruh, pembuat konten, dan koordinator yang bekerja secara terorganisasi.
Hal itu tergambar dalam penelitian The Infrastructure of Domestic Influence Operations: Cyber Troops and Public Opinion Manipulation Through Social Media in Indonesia karya Wijayanto, Ward Berenschot, Yatun Sastramidjaja, dan Kris Ruijgrok. Penelitian yang terbit pada 2024 tersebut, berdasarkan wawancara dengan 52 orang yang pernah terlibat dalam operasi cyber troops, menunjukkan bahwa jaringan pengaruh digital umumnya bekerja secara tersembunyi, menggunakan akun anonim, mendapatkan kompensasi, dan memiliki pembagian kerja yang jelas.
Pendengung, dengan demikian, bukan sekadar orang yang rajin memuji tokoh politik atau menyerang lawan. Mereka dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. Koordinator mendapatkan proyek, kemudian mengumpulkan pengelola akun, pembuat konten, pendengung, dan pemengaruh untuk menjalankan kampanye tertentu. Konten dibuat, disebarkan, dikomentari, di-retweet, dan diperkuat hingga memperoleh perhatian lebih besar.
Cara kerjanya sederhana: membuat suara kecil terdengar besar.
Jika satu orang menyampaikan pendapat, mungkin hanya sedikit yang mendengar. Tetapi jika puluhan akun mengulang pesan serupa, membuat meme dan video, lalu pemengaruh ikut membicarakannya, publik mulai menganggap isu tersebut penting. Tingginya interaksi kemudian ditangkap algoritma sebagai tanda bahwa konten layak disebarluaskan. Media pun dapat ikut mengangkatnya karena dianggap sedang viral.
Yang dimanipulasi akhirnya bukan hanya opini, tetapi persepsi tentang opini mayoritas.
Yang menarik, operasi pengaruh tidak selalu membutuhkan berita palsu. Informasi yang benar pun dapat digunakan untuk memperbesar satu sudut pandang, menyerang lawan, atau menenggelamkan suara tertentu. Karena itu, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada “Apakah informasi ini benar?” Kita juga perlu bertanya: siapa yang membuatnya terus muncul, siapa yang memperkuatnya, dan siapa yang diuntungkan?
Pada 2026, persoalannya semakin rumit. AI generatif dapat membuat teks, gambar, suara, dan video dalam jumlah besar. Deepfake membuat batas antara konten asli dan sintetis semakin kabur. Sementara algoritma dan sistem monetisasi platform memberi hadiah kepada konten yang mampu menghasilkan perhatian dan engagement.
Artinya, tidak semua orang membuat konten politik karena ideologi. Ada yang dibayar, mengejar popularitas, mencari pengikut, atau sekadar mengejar pendapatan. Semua kepentingan itu dapat bertemu dalam satu ekosistem digital tanpa harus berada di bawah satu komando.
Karena itu, fenomena pendengung tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan pemerintahan atau kelompok politik tertentu. Pemerintah, partai, kandidat, kelompok kepentingan, maupun elite ekonomi dapat memanfaatkan jaringan pengaruh selama memiliki sumber daya.
Inilah persoalan demokrasi yang lebih besar: apakah uang dan kekuasaan dapat membeli kemampuan untuk mengatur percakapan publik?
Pemerintahan boleh berganti, tetapi infrastruktur politik digital tidak otomatis ikut berubah. Teknologinya semakin canggih, sementara logikanya tetap sama: memperoleh perhatian, memperbesar pesan, membentuk persepsi, dan memengaruhi opini.
Maka, ketika sebuah isu tiba-tiba memenuhi linimasa, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa “semua orang berpikir seperti ini”.
Cobalah bertanya:
“Siapa yang membuat saya melihat ini berkali-kali?”
Sebab di era pendengung, algoritma, AI, dan ekonomi engagement, yang paling keras terdengar belum tentu suara yang paling banyak. Bisa jadi, ia hanya suara yang paling terorganisasi.
Bagaimana menurut Anda? Apakah kita masih mampu membedakan suara publik yang benar-benar organik dengan percakapan yang sengaja dibuat terlihat ramai?






