Oleh: Mohammad Jafar Bua
Ada kebiasaan unik kita di media sosial kita: takut ketinggalan. Anak-anak muda menyebutnya FOMO, fear of missing out, rasa gelisah karena merasa tidak mengikuti sesuatu yang sedang ramai, tidak mengetahui informasi terbaru, atau tidak menjadi bagian dari percakapan yang sedang dibicarakan banyak orang.
Dalam urusan sehari-hari, FOMO mungkin hanya membuat seseorang merasa harus mencoba restoran yang sedang viral, membeli barang yang sedang tren, atau ikut datang ke tempat yang sedang ramai di media sosial. Tetapi ketika rasa takut ketinggalan itu masuk ke wilayah politik, ceritanya bisa menjadi lebih serius.
Kita bukan lagi sekadar takut ketinggalan tren, tetapi mulai takut ketinggalan sebuah kontroversi, sebuah kemarahan, sebuah tuduhan, atau bahkan sebuah “kebenaran” yang sedang ramai-ramainya dipercaya orang.
Di sinilah FOMO politik mulai bekerja. Kita membuka ponsel, lalu melihat sebuah isu sedang memenuhi beranda. Orang-orang membicarakannya, membuat meme, membuat video, saling berdebat, bahkan saling mencaci. Kita mungkin belum tahu persoalannya secara lengkap, tetapi karena hampir semua orang tampaknya sudah mempunyai pendapat, muncul perasaan bahwa kita juga harus punya pendapat. Tidak enak rasanya kalau hanya diam ketika semua orang sedang ramai.
Akhirnya kita ikut berkomentar, ikut membagikan, atau paling tidak ikut memberikan tanda suka. Kadang kita bahkan ikut marah sebelum sempat bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Dulu, ketika mendengar sebuah berita, pertanyaan pertama yang muncul mungkin sederhana: “Benarkah?” Kita mencari sumbernya, membaca berita dari beberapa media, atau menunggu penjelasan yang lebih lengkap sebelum membuat kesimpulan. Sekarang, pertanyaan itu kadang bergeser menjadi: “Ini sedang viral, ya?”
Perubahan kecil ini sebenarnya cukup penting. Sebab sesuatu yang viral sering kali kita anggap penting, dan sesuatu yang dibicarakan banyak orang perlahan terasa seperti sesuatu yang benar. Padahal keduanya tidak sama. Kebohongan bisa viral, kesalahpahaman bisa viral, video yang dipotong dari konteks bisa viral, bahkan informasi yang sengaja dipelintir pun bisa menjadi viral jika berhasil menyentuh emosi orang banyak.
Masalahnya, otak manusia cukup mudah terpengaruh oleh pengulangan. Kita melihat sebuah informasi sekali, mungkin kita ragu. Kita melihatnya dua kali, kita mulai mengenalinya. Kita melihatnya sepuluh kali dari akun yang berbeda, ditambah meme dan video pendek yang mengulang pesan yang sama, perlahan muncul perasaan bahwa informasi tersebut memang benar. Bukan karena kita sudah memeriksanya, tetapi karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Kalimat “saya sudah sering mendengar ini” kemudian tanpa sadar berubah menjadi “berarti memang benar”. Padahal, sering didengar bukan berarti benar.
FOMO politik biasanya juga tidak datang melalui tulisan yang panjang dan rumit. Ia datang melalui sesuatu yang sangat mudah dicerna: video berdurasi beberapa detik, potongan pernyataan seorang pejabat, judul yang dibuat provokatif, meme yang lucu tetapi menyimpan tuduhan, atau unggahan seseorang yang terlihat sangat yakin bahwa ia sedang membongkar sebuah fakta besar.
Setelah itu, orang lain ikut menanggapi. Ada yang mengatakan pemerintah tidak becus, ada yang mengatakan pejabat berbohong, ada yang mengatakan negara sedang menuju kehancuran, lalu muncul orang lain yang membawa persoalan lama dan memasukkannya ke dalam percakapan yang sama. Semua bercampur menjadi satu. Kita menggulir layar sambil membaca semuanya, dan semakin banyak orang yang berbicara, semakin kuat perasaan bahwa kita juga harus menentukan posisi.
Media sosial memang mempunyai cara yang sangat halus untuk mendorong kita melakukan itu. Kita tidak pernah benar-benar diperintah untuk ikut berkomentar. Tidak ada orang yang mengetuk pintu rumah dan mengatakan, “Kamu harus ikut marah.” Tetapi ketika kita melihat sebuah isu terus-menerus muncul di layar, ketika teman-teman kita membicarakannya, ketika orang yang kita ikuti ikut berkomentar, muncul semacam tekanan sosial yang tidak terlihat. Seolah-olah ada suara kecil yang berkata, “Masa kamu tidak tahu? Masa kamu tidak punya pendapat?” Akhirnya, kita merasa harus segera bereaksi, meskipun sebenarnya belum cukup tahu.
Di sinilah algoritma ikut mengambil peran. Setiap kali kita menyukai sebuah unggahan, menonton video sampai selesai, membagikan konten, atau bahkan berlama-lama membaca komentar, sistem mencatat perilaku kita. Algoritma belajar apa yang menarik perhatian kita, apa yang membuat kita berhenti menggulir, apa yang membuat kita tertawa, takut, atau marah. Kemudian ia menyajikan lebih banyak konten yang serupa. Kita pun semakin sering melihat pendapat yang sejalan dengan apa yang sudah kita sukai sebelumnya. Lama-lama kita merasa semua orang berpikir seperti kita, padahal mungkin kita hanya sedang berada di dalam gelembung informasi sendiri.
Di luar gelembung itu, bisa jadi ada banyak orang yang melihat persoalan yang sama dengan cara berbeda. Tetapi karena konten mereka tidak lagi banyak muncul di hadapan kita, kita merasa seolah-olah pandangan tersebut tidak ada. Akibatnya, sebuah persoalan yang sebenarnya memiliki banyak sisi terlihat hanya memiliki dua pilihan: mendukung atau menolak, membela atau menyerang, pro atau kontra. Politik pun berubah menjadi pertandingan antarkubu, sementara ruang untuk berkata “saya belum tahu” semakin sempit.
Yang agak menggelikan, kita kadang bisa sangat marah terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami. Ada orang yang sangat yakin sebuah kebijakan buruk, tetapi ketika ditanya apa isi kebijakan itu, ia kesulitan menjelaskan. Ada yang yakin seorang tokoh sedang berbohong, tetapi hanya melihat potongan video beberapa detik. Ada yang menyebut sebuah angka sebagai kebohongan, tetapi tidak pernah mencari sumber angka tersebut.
Ada pula yang menyebarkan meme berkali-kali tanpa pernah bertanya siapa yang membuatnya dan dalam konteks apa. Yang kita miliki akhirnya bukan pengetahuan yang utuh, melainkan perasaan bahwa kita sudah tahu.
Dan perasaan “sudah tahu” itu kadang lebih kuat daripada keinginan untuk benar-benar mengetahui.
Manusia memang tidak terlalu suka merasa sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung merasa lebih aman ketika berada bersama kelompok. Di media sosial, rasa aman itu bisa muncul dalam bentuk jumlah like, komentar, share, dan jumlah penonton. Ketika melihat sebuah unggahan mendapatkan ratusan ribu tanda suka, kita mudah menganggapnya mempunyai legitimasi. Ketika sebuah video sudah ditonton jutaan kali, kita merasa persoalannya pasti besar. Padahal angka-angka itu hanya menunjukkan bahwa konten tersebut mendapatkan perhatian. Ia tidak membuktikan bahwa isinya benar.
Maka, perlahan-lahan pertanyaan kita bisa berubah. Bukan lagi, “Apa yang benar?”, melainkan “Apa yang sedang dipercaya banyak orang?” Padahal keduanya berbeda jauh. Sesuatu bisa dipercaya banyak orang dan tetap keliru. Sebaliknya, sesuatu yang benar belum tentu langsung dipercaya banyak orang.
Karena itu, FOMO politik bukan penyakit orang bodoh. Orang berpendidikan tinggi pun bisa mengalaminya. Orang yang rajin membaca berita pun bisa terjebak. Bahkan orang yang sering mengingatkan orang lain agar tidak mudah percaya hoaks pun bisa ikut menyebarkan informasi yang belum diperiksa ketika informasi tersebut sesuai dengan keyakinannya. Sebab persoalannya bukan hanya soal kecerdasan atau pendidikan. Ada emosi yang ikut bermain. Ketika kita marah, kecewa, takut, atau terlalu bersemangat, kita cenderung mencari informasi yang membuat perasaan kita terasa benar.
Di situlah kita mulai membaca bukan untuk mengetahui, tetapi untuk mencari pembenaran.
Ada satu kalimat yang sebaiknya kita ingat setiap kali berhadapan dengan isu politik yang sedang ramai: “Semua orang bilang begitu” bukan bukti kebenaran. Seribu akun yang mengulang informasi yang sama tidak otomatis membuat informasi itu benar. Sepuluh ribu orang membuat meme yang sama juga tidak membuat angka dalam meme tersebut menjadi valid. Bahkan jutaan orang dapat mempercayai sesuatu yang ternyata keliru.
Masalahnya, media sosial membuat kesalahan bersama itu bergerak sangat cepat. Satu orang membuat sebuah klaim, orang kedua menirunya, orang ketiga membagikannya, orang keempat membuat meme, orang kelima memasukkannya ke grup WhatsApp, lalu orang keenam membuat video reaksi. Beberapa jam kemudian, informasi yang semula mungkin hanya berasal dari satu sumber sudah terlihat seperti pendapat mayoritas. Yang bertambah bukan bukti, melainkan jumlah orang yang mengulanginya.
Lebih menarik lagi, tidak semua orang yang ikut menyebarkan informasi tersebut adalah buzzer. Tidak semuanya dibayar. Tidak semuanya menjadi bagian dari organisasi tertentu. Banyak yang menyebarkan karena benar-benar percaya bahwa informasi tersebut benar. Mereka merasa sedang membantu, sedang membuka mata orang lain, atau sedang mengingatkan teman-temannya agar tidak tertipu. Justru di sinilah kekuatan sekaligus bahayanya. Seseorang tidak perlu menjadi bagian dari operasi propaganda untuk membantu memperbesar sebuah narasi. Cukup percaya, kemudian tekan tombol share.
Setelah itu, informasi bergerak sendiri. Dari satu grup WhatsApp ke grup lain, dari Facebook ke TikTok, dari TikTok ke Instagram, kemudian kembali lagi ke WhatsApp dalam bentuk tangkapan layar. Sumber awalnya semakin jauh, sementara jumlah orang yang melihatnya semakin banyak. Pada akhirnya, orang mungkin tidak lagi bertanya siapa yang pertama kali mengatakan sesuatu. Mereka hanya melihat bahwa “banyak orang sudah membicarakannya”.
Dalam keadaan seperti itu, politik mudah berubah menjadi pertandingan identitas. Orang yang sejak awal tidak menyukai pemerintah akan lebih mudah menerima informasi yang menyudutkan pemerintah, sementara orang yang mendukung pemerintah cenderung lebih mudah mempercayai informasi yang membelanya. Keduanya bisa merasa sedang bersikap rasional. Padahal, tanpa disadari, keduanya mungkin sedang memilih informasi berdasarkan keyakinan yang sudah ada sebelumnya.
Pada titik tertentu, fakta bahkan menjadi urusan kedua. Yang lebih penting adalah siapa yang mengatakan. Kalau orang yang kita sukai mengatakan sesuatu, kita memberi ruang untuk percaya. Kalau orang yang tidak kita sukai mengatakan hal yang sama, kita buru-buru mencari alasan untuk menolaknya. Kita tidak lagi hanya mengatakan, “Saya tidak setuju dengan pendapatnya”, tetapi mulai mengatakan, “Saya tidak percaya apa pun yang datang dari kelompok mereka.”
Inilah ketika politik berhenti menjadi pertukaran gagasan dan mulai berubah menjadi pertarungan identitas.
Media sosial juga membuat orang merasa harus mempunyai pendapat tentang segala sesuatu. Ketika sebuah isu sedang ramai, diam kadang dianggap tidak peduli. Tidak berkomentar dianggap tidak tahu. Bahkan tidak ikut membagikan sebuah konten bisa dianggap sebagai tanda bahwa kita berada di pihak yang salah.
Akibatnya, muncul perlombaan yang sebenarnya cukup melelahkan: siapa yang paling cepat bereaksi, siapa yang paling cepat membuat meme, siapa yang paling cepat menemukan kesalahan, siapa yang paling cepat membela, dan siapa yang paling cepat menyebarkan tuduhan.
Kecepatan akhirnya menjadi lebih penting daripada ketepatan.
Padahal dalam urusan publik, informasi yang terlambat beberapa menit tetapi benar jauh lebih berguna daripada informasi yang cepat menyebar tetapi ternyata keliru.
Cara melawan FOMO politik sebenarnya tidak rumit. Kita hanya perlu belajar memberi jeda kepada diri sendiri. Ketika melihat sesuatu yang membuat kita marah, jangan langsung membagikannya. Cari sumber pertamanya. Kalau yang beredar adalah potongan video, cari video lengkapnya. Kalau ada angka, cari tahu dari mana angka tersebut berasal. Kalau yang kita lihat hanya tangkapan layar, cari berita atau dokumen aslinya. Dan yang paling penting, tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau informasi ini ternyata salah, apakah saya masih ingin membagikannya?”
Kalau jawabannya tidak, mungkin memang lebih baik menunggu.
Tidak ada hadiah bagi orang yang paling cepat menyebarkan berita. Tidak ada penghargaan karena menjadi orang pertama yang marah. Tidak ada medali karena menjadi orang pertama yang menemukan bahan untuk menyerang lawan politik. Dan dunia tidak akan berubah hanya karena kita terlambat lima menit mengetahui sebuah isu.
Demokrasi tentu membutuhkan masyarakat yang kritis, tetapi kritis tidak sama dengan mudah marah. Kritis berarti mau bertanya, mau memeriksa, mau membandingkan, mau mendengar pandangan yang berbeda, dan yang paling penting, bersedia mengubah pendapat ketika fakta menunjukkan bahwa kita keliru. Yang paling sulit justru mengakui bahwa orang yang kita dukung juga bisa salah, sementara orang yang tidak kita sukai kadang bisa mengatakan sesuatu yang benar.
Sikap seperti itu mungkin tidak terlalu menarik di media sosial. Ia tidak selalu viral, tidak selalu mendapatkan ribuan komentar, dan tidak membuat kita terlihat sebagai orang yang paling tahu dalam sebuah grup percakapan. Tetapi justru di situlah kedewasaan dalam berpolitik diuji.
Kita tidak harus menjadi orang pertama yang tahu. Kita juga tidak harus menjadi orang pertama yang berkomentar. Kadang menjadi orang yang sedikit terlambat membagikan sesuatu, tetapi sudah memastikan bahwa informasi tersebut benar, jauh lebih berguna daripada menjadi orang pertama yang ikut menyebarkan sesuatu yang kemudian terbukti keliru.
Jadi, jangan takut ketinggalan keributan. Tidak semua yang ramai harus kita ikuti. Tidak semua yang viral harus kita percaya. Tidak setiap persoalan politik mengharuskan kita segera memilih kubu.
Sebab ketika semua orang sedang berteriak, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan berpikir dengan kepala dingin justru merupakan salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana, dan mungkin paling langka, di zaman media sosial ini.
*Mohammad Jafar Bua, eks Produser Lapangan CNN Indonesia, kini Tenaga Ahli Anggota DPR RI






