JAKARTA, PALUEKSPRES.COM — Para ilmuwan memperkirakan durasi satu hari di Bumi pada masa depan dapat bertambah menjadi 25 jam seiring Bulan perlahan bergerak menjauh dari planet ini.
Perubahan tersebut berkaitan dengan interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan yang secara perlahan memengaruhi kecepatan rotasi Bumi.
Dikutip dari The Times of India, Bulan saat ini berjarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dari Bumi dan bergerak menjauh dengan laju sekitar 3,8 sentimeter per tahun.
Pergerakan tersebut menyebabkan perubahan yang sangat kecil terhadap rotasi Bumi. Dalam jangka waktu yang sangat panjang, rotasi Bumi menjadi lebih lambat sehingga durasi satu hari bertambah.
Para ilmuwan memperkirakan, dalam kondisi tertentu, satu hari di Bumi pada masa depan dapat berlangsung selama 25 jam.
Namun, perubahan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Proses berlangsung sangat lambat
Fenomena tersebut merupakan bagian dari interaksi pasang surut (tidal interaction) antara Bumi dan Bulan.
Gravitasi Bulan menimbulkan pasang surut air laut di Bumi. Gesekan yang terjadi akibat pergerakan massa air tersebut secara perlahan mengurangi energi rotasi Bumi.
Pada saat yang sama, sebagian energi sistem Bumi-Bulan menyebabkan orbit Bulan berkembang sehingga Bulan bergerak semakin jauh dari Bumi.
Dengan demikian, terdapat hubungan antara dua fenomena tersebut: Bumi berotasi semakin lambat, sementara Bulan secara perlahan menjauh.
Perubahannya sangat kecil dalam skala kehidupan manusia.
Durasi satu hari tidak bertambah satu jam dalam hitungan tahun atau bahkan ribuan tahun. Dibutuhkan rentang waktu geologis yang sangat panjang untuk menghasilkan perubahan sebesar itu.
Dahulu hari di Bumi jauh lebih pendek
Catatan geologi menunjukkan bahwa durasi hari di Bumi pada masa lalu jauh lebih pendek dibandingkan sekarang.
Ketika Bulan berada lebih dekat dengan Bumi, pengaruh pasang surutnya lebih kuat sehingga perlambatan rotasi Bumi berlangsung lebih besar.
Seiring Bulan menjauh, efek tersebut berubah secara perlahan.
Penelitian mengenai evolusi sistem Bumi-Bulan menunjukkan bahwa hubungan gravitasi keduanya telah berlangsung selama miliaran tahun.
Karena itu, panjang hari bukanlah sesuatu yang benar-benar konstan. Durasi tersebut berubah secara perlahan akibat berbagai faktor, termasuk interaksi gravitasi dengan Bulan.
Bukan berarti manusia akan segera memiliki hari 25 jam
Prediksi mengenai hari 25 jam kerap disalahartikan seolah-olah perubahan tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
Padahal, perubahan rotasi Bumi berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang.
Selain pengaruh Bulan, rotasi Bumi juga dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk pergerakan atmosfer, arus laut, distribusi massa di dalam dan di permukaan Bumi, serta dinamika inti planet.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan panjang hari berubah dalam skala milidetik hingga pecahan milidetik.
Karena itu, para ilmuwan menggunakan pengamatan astronomi dan model fisika untuk mempelajari bagaimana panjang hari berubah dari waktu ke waktu.
Bulan terus menjauh
Pengukuran modern menunjukkan bahwa Bulan memang secara perlahan menjauh dari Bumi.
Laju rata-rata yang sering digunakan adalah sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angka tersebut diperoleh melalui pengukuran jarak Bumi-Bulan menggunakan reflektor laser yang ditempatkan di permukaan Bulan oleh misi Apollo dan misi lainnya.
Laser ditembakkan dari Bumi menuju reflektor tersebut. Waktu yang dibutuhkan cahaya untuk kembali kemudian digunakan untuk mengukur jarak Bumi dan Bulan dengan tingkat ketelitian sangat tinggi.
Pengamatan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa jarak Bulan bertambah.
Fenomena tersebut merupakan bagian normal dari evolusi sistem Bumi-Bulan.
Jika proses tersebut terus berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang, rotasi Bumi akan terus mengalami perubahan dan panjang hari akan bertambah.
Perubahan berlangsung dalam skala miliaran tahun
Meski demikian, masa depan sistem Bumi-Bulan tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan angka 3,8 sentimeter per tahun secara sederhana.
Laju perubahan dapat berbeda dalam jangka panjang karena kondisi Bumi, terutama distribusi benua dan lautan, turut memengaruhi respons pasang surut.
Model ilmiah karena itu menghasilkan berbagai skenario mengenai bagaimana jarak Bulan dan panjang hari berkembang selama ratusan juta hingga miliaran tahun.
Prediksi mengenai hari 25 jam harus dipahami dalam konteks tersebut.
Bagi manusia saat ini, perubahan tersebut praktis tidak terasa.
Jam tangan, kalender, aktivitas kerja maupun kehidupan sehari-hari tidak akan tiba-tiba membutuhkan tambahan satu jam.
Namun dalam perspektif astronomi dan geologi, perubahan kecil yang berlangsung terus-menerus selama jutaan atau miliaran tahun dapat menghasilkan perubahan besar.
Fenomena Bumi dan Bulan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa planet tempat manusia hidup bukanlah sistem yang statis.
Bumi terus berputar, Bulan terus mengorbit dan secara perlahan menjauh, sementara hubungan gravitasi keduanya terus mengubah sistem tersebut dalam rentang waktu yang jauh melampaui kehidupan manusia.






