“‘Kami toleran’ dan ‘kalian intoleran’. ‘Kami perawat kemajemukan’ sementara ‘kalian perusak kebhinekaan’. ‘Kami penjaga Pancasila’ dan ‘kalian berkhianat pada Pancasila’. ‘Kami cinta NKRI’ sementara ‘kalian menjauh dari paham NKRI’,” paparnya.
Padahal, jelas Zulhas, kekalahan atau kemenangan dalam kontestasi politik adalah hal biasa dalam demokrasi. Tidak sepatutnya kalah atau menang dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Sebut dia, demokrasi menuntut siapapun untuk siap menang secara layak dan kalah secara terhormat. Walhasil, kontestasi atau kompetisi politik semestinya disikapi dalam suasana rekonsiliasi bukan pemecah-belahan.
“Kita tak bisa biarkan pemberian label dan pengkotak-kotakan kelompok dengan menggunakan identitas pro-Pancasila, kemajemukan, toleransi dan kesetiaan pada NKRI itu. Secara khusus umat Islam menjadi sasaran dalam pelabelan dan pengkotak-kotakan ini,” pungkasnya.
Kesalahpahaman ini kata Zulhas sungguh berbahaya. Sejarah republik ini sudah membuktikan bahwa umat Islam sudah khatam masalah toleransi. Bahkan umat Islam adalah pembela dan pecinta NKRI dan perawat kemajemukan.
“Umat Islam adalah pemberi sumbangan terbesar bagi terjaga dan terawatnya Pancasila,” demikian Zulhas.
(san/rmol/fajar)






