Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Dia Kalah, Tak Pernah Direken Karena Merasa Paling Benar

Tasrief Siara

Tasrief Siara, Praktisi komunikasi massa

HARI ini Anis dan Sandi dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Banyak hal menarik dipelajari pada proses Pilkada Gubernur Jakarta itu, apalagi untuk mereka yang minat bermain di “wilayah perebutan kekuasaan”, hingga menghantarkan kemenangan Anis dan kekalahan untuk Ahok.

Ketika proses pungut hitung (voting day) pada putaran kedua selesai pada enam bulan lalu itu, saya merekam ragam respon dari warga Kota Palu yang peduli Pilkada Jakarta.

Respons itu menarik: Ahok kelaut. Begitu suara kawan dari balik kotak suara telepon selular saya. Lain lagi respon seorang tukang yang lagi pasang terali jendela di rumah saya, spontan ia berujar saat mendengar berita di televisi, “hmmm, akhirnya kalah juga kau”.
Seorang warga keturunan di pelataran kafe sebuah perumahan mewah di bilangan Tondo rabu malam usai proses pungut hitung pada enam bulan lalu itu, dengan suara lirih berujar pada kawannya, “dia kalah”.

Begitulah gambaran dari pengaruh Pilkada Jakarta yang begitu kuat menyita perhatian publik. Nyaris tak ada warga di negeri ini tak menanti hasil peratarungan DKI satu antara Anis-Sandi dan Ahok-Jarot.

Juga begitu banyak peristiwa sosial dan politik yang terjadi hingga melahirkan aneka variabel yang menjadi sumber perbincangan bagi warga kebanyakan dan sumber analisis ilmuan politik maupun para praktisi politik di panggung talk show televisi.

Namun yang pasti, banyak pelajaran yang bisa dimanfaatkan untuk mereka yang suka terlibat dalam “permaian kekuasan”, karena pilkada Jakarta itu memang sarat pembejaran, apalagi ditunjang dengan lahirnya anomaly yang menarik untuk dipetik hikmahnya.

Untuk sebuah pembejaran itu, seperti ditunjukkan oleh hasil penelitan lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan dari tanggal 31 Maret sampai 5 April 2017 menemukan, sebanyak 76 persen warga Jakarta puas atas kinerja Gubernur Ahok dan Jarot. Itu artinya modal politik telah dalam genggaman.

Namun pertanyaannya, mengapa kalah ? Entahlah risetnya yang “bermain” untuk salah satu pasangan kandidat atau barangkali pemilih bimbang yang diriset hingga cepat berubah pikiran.

Pelajaran menarik patut dipetik hikmanhya, khususnya untuk mereka yang minat bermain diwilayah perebutan kekuasaan, ternyata tingkat kepuasan publik atas kinerja seorang pemimpin sekelas gubernur misalnya, tak berkorelasi positif dengan tingkat elektabilitas seorang kandidat yang akan bertarung kembali. Inilah anomaly itu.

Pelajaran berikutnya, kita semua mengetahui jika gaya komunikasi politik bekas Gubernur Ahok sering memantik kontroversi. Ia misalnya begitu gampang naik pitam dan mengumbar kemarahan di ruang publik dalam merespon masalah yang dikeluhkan warga, padahal ia seorang pejabat publik yang mestinya harus pandai merawat tuturan dan ucapan.

Seorang kepala daerah sekelas gubernur misalnya, walikota atau bupati tidak boleh setiap saat marah-marah terus, tapi bukan berarti tak boleh marah. Seorang kepala daerah harus cerdas mengakomodir aspirasi warga, juga cerdas memanage masukan-masukan dari para kepala dinasnya.

Memang, soal mengakomodasi aspirasi maupun saran atau masukan ini terkadang banyak memantik masalah, karena biasanya ada kepala daerah merasa punya otoritas lebih, hingga hanya pikirannya yang minta dipahami, sementara pikiran atau saran orang lain, tak pernah direken karena merasa paling benar.

Padahal seorang kepala daerah harus bisa membangun investasi sosial day to day agar ingatan publik tak gampang lekang dihati konstituen.

Namun terlepas dari semua hal itu, kita tetap mendapat pelajaran sangat berharga. Pertama adanya kebesaran jiwa dari Ahok dan Jarot menerima kekalahan. Dan kedua, tak terlihat sedikitpun adanya sikap membusungkan dada diperlihatkan oleh Anis dan Sandi sebagai pemenang. Mereka adalah aktor-aktor demokrasi yang akan membesar untuk Indonesia yang akan datang.

Sikap mereka merespons kekalahan dan kemenangan itu menjadi pupuk terbaik dalam mematangkan kualitas substansi demokrasi di negeri ini. Padahal jauh sebelum proses voting day dimulai, rasa-rasanya seperti orang mau “perang” yang resonansinya menjalar ke seantero negeri. Termasuk mengusik perhatian tukang terali jendela di rumah saya yang berkomentar, “hmmm, akhirnya kalah juga kau”.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital