Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Realitas Palsu

Tasrief Siara

Oleh Tasrif Siara, praktisi komunikasi massa

KEHIDUPAN itu terkadang kejam. Ketika kuasa ada ditangan anda maka orang pada mendekat bagai laron. Namun ketika kuasa menghilang ditangan anda, orang-orang lari dan menjauh. Pertanda apa ini?

Belum lama ini saya nonton sebuah acara menarik di televisi, judulnya Brain Game. Acara itu menguji respon seseorang terhadap satu obyek yang sama, namun ketika obyek itu berganti rupa dalam adegan berbeda, respon orang disekitarnya ikut berubah.

Acara Brain Game itu menayangkan dua adegan yang berbeda. Pertama memperlihatkan seorang lelaki necis dengan dandan yang sangat rapi, memakai jas dan dasi berjalan disebuah taman kota, tiba-tiba pingsan dikeramaian. Seketika itu orang disekitarnya memberi respon yang sangat cepat untuk membantu.

Adegan kedua, masih dengan lelaki yang sama, namun telah berganti kostum, ia memakai pakaian agak kumal berjalan ditempat yang sama dan tiba-tiba beradegan pingsan ditempat yang sama pula saat dandan necis. Sampai hitungan ke menit lima belas, tak satupun orang merespon untuk membantu, bahkan dibiarkan tergeletak begitu saja tanpa ada yang hirau. Pertanyaannya, mengapa respon orang menjadi berbeda, padahal pelaku utamanya orang yang sama ?

Ini mungkin disebut dengan anomaly social dalam memandang kehidupan. Bahkan anomaly itu cenderung menjadi penyakit sosial yang masih menggelantung dalam cosmologi berpikir dan bersikap kita. Respon otak kita terkadang masih sangat sulit mengintegrasikan antara dandanan necis dan tampilan kumal, apalagi dekil. Dari gaya berpikir seperti itu hingga respon otak kita masih sangat suka mengkotak-kotakkan realitas yang ada didepan mata kita. Padahal teks agama tak mengajarkan seperti itu.

Acara Brain Game itu sesungguhnya adalah realitas keseharian kita. Hari ini kita hidup dalam sistem sosial yang masih suka mendikotomikan tampilan seseorang dari kulit luar. Seumpama sebuah buku, kita hanya suka menilai buku dari covernya bukan isinya.

Dari pandangan seperti itu hingga kita selalu memberi respon yang berbeda ketika melilihat sosok yang necis dan memandang remeh sosok yang kumal. Singkat kata, kita masih memandang realitas individu pada kelas-kelas social seseorang.

Almarhum Mochtar Lubis, jurnalis ternama Indonesia pernah menulis buku berjudul “Manusia Indonesia”. Sejumlah tipologi manusia Indonesia ia paparkan. Tipologi pertama manusia Indonesia yang cukup menonjol tulis Muchtar adalah hipokrit alias munafik. Suka berpura-pura, lain di muka lain di belakang.

Menurut Muchtar Lubis, sistem feodal kita di masa lampau yang begitu menekan rakyat dan menindas segala inisiatif rakyat, adalah salah satu sumber dari hipokrisi yang dahsyat ini.
Ini mungkin pembelajaran buat mereka yang sedang diberi kuasa (baca: jabatan dan kekayaan) yang ada dilembaga eksekutif, legislative dan profesi lainnya.

Ketika anda punya kuasa seketika itu nyaris semua orang membungkukkan badan ketika melintas dihadapan anda, namun sebvaliknya ketika kuasa tak lagi ditangan anda, menolehpun terkadang orang tak sudi, apalagi gaya kepemimpinan anda cenderung otoriter, sekantong cibiran pas menanti.

Lain cerita jika anda yang punya kuasa bisa memahami realitas, mana yang tulus memberi respon dan mana yang cari muka dan berusaha membangun kedekatan karena adanya sejumlah kepentingan. Paling tidak numpang tenar karena anda kini sedang menjadi orang tenar. Masalahnya, ketika tak lagi punya kuasa dan ketenaran juga menjauh.

Ia pasti sama seperti permainan brain game, ketika anda dengan dandanan necis orang mendekat dan ketika kostum anda berganti kumal orang pada menjauh.***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital