Dengan melihat jejak sejarah perjuangan itulah kata Lukman, Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Ada sejumlah indikator mengapa Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, diantaranya, ketersediaan sumber tertulis pada jamannya tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga memberi informasi secara konferehensif tentang perlawanan yang dilakukan oleh Tombolotutu menantang Pemerintah Belanda.
“Tentu saja itu dilengkapi dengan sumber sumber tulisan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan demikian kita bisa mensinergikan menyatukan antar sumber Belanda, baik tulisan maupun sumber lisan yang dimiliki masyarakat,”terangnya

Lukman menjelaskan dari sisi waktu, perjuangan Tombolotutu cukup lama. Berdasarkan catatan yang ada, awal mula semangat perlawanan Tombolotutu itu mulai tumbuh pada tahun 1891. Perlawanan itu terus mengalami perubahan yang lebih besar dan kian menyulitkan Pemerintah Belanda. Belanda merasa sangat terganggu, hingga berakhir pada tahun 1904.
“Jadi kurang lebih 13 tahun perjuangannya. Yang menarik sebenarnya, meskipun Tombolotutu sudah meninggal seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber sumber tertulis pada tanggal 17 Agustus 1901 tetapi para kader dan pengikut pengikutnya tetap melakukan perlawanan kepada Belanda,”jelasnya
Indikator lain adalah, di Sulawesi Tengah hingga saat ini belum ada yang berhasil diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. “Sebelumnya sudah pernah ada beberapa, tapi terkendala beberapa persyaratan, seperti data yang kurang lengkap hingga soal regulasi yang masyaratkan soal kewarganegaraan.
Karena itu,Tombolotutu menjadi sosok yang pantas dan mestinya harus selalu kita dorong menjadi Pahlawan Nasional,”ujar pria kelahiran Tolitoli itu.






