Selain itu, secara geografis dan strategi perlawanan, Tombolotutu melakukan perlawanan terhadap Belanda dalam jangkauan yang luas sampai mengarungi lautan Teluk Tomini hingga sampai ke Togean Ampana. Disana Tombolotutu melakukan gerakan gerakan anti Belanda. Selama perjalanan itu tidak luput dari intaian dan pengejaran Belanda dan tidak bisa ditangkap.
Lalu sampai ke Pantai Barat, melintasi selat Makassar melintasi gunung sampai ke Donggala.
Dari sisi strategi, Tombolotutu mengembangkan perang gerilya. Keluar masuk hutan bahkan melewati lautan masuk di sela sela teluk yang merasa aman dan sukar ditembus oleh Pemerintah Belanda. “Jadi apa yang dipraktekkan oleh Jenderal Soedirman dalam melakukan perang gerilya dilakukan oleh Tombolotutu. Saya kira sejumlah indikator itu yang menjadi dasar, Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,”ujarnya
Kata Lukman, FGD ini bertujuan mengumpulkan dan mencocokkan informasi tertulis yang banyak sekali menggunakan istilah istilah Belanda yang bisa jadi tidak cocok dengan kondisi di lapangan. “Makanya kami kumpul masyarakat untuk dilakukan klarifikasi. Setelah ini kita finalisasi dan lakukan proses edit secara cermat naskah yang sudah kami buat itu untuk selanjutnya kita terbitkan menjadi buku,”ungkapnya
Bupati Parigi Moutong, H Samsurizal Tombolotutu yang ikut dalam FGD itu menyampaikan apresiasi kepada tim FKIP Untad yang telah menginisiasi penelusuran jejak sejarah perlawanan Tombolotutu melawan Belanda itu. “Saya berterima kasih kepada FKIP Untad yang sudah meneliti sejarah leluhur saya. Mudah mudahan ini bisa segera dibukukan dan bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,”ujarnya.
Penelitian yang dilakukan FKIP Untad itu dimulai sejak Maret 2017. Dijadwalkan buku yang akan diberi judul Bara Perlawanan di Teluk Tomini, pejuangan melawan Belanda itu akan dilaunching Januari Tahun 2018. ***
(Jeprin/Mumas Parimo)






