Sabtu, 8 Agustus 2026

Harga Pertalite Naik, Palu Alami Inflasi

PALU EKSPRES, PALU – Kenaikan harga Pertalite yang terjadi sejak 24 Maret 2018 mengerek inflasi April 2018. Inflasi pada bulan tersebut sebesar 0,76 persen. Adapun, bahan bakar minyak (BBM) masuk dalam kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik dan bahan bakar yang memiliki andil terhadap inflasi sebesar 0,04 persen.

“Andil bensin dipengaruhi oleh kenaikan harga Pertalite yang terjadi 24 Maret 2018. Inflasi bensin baru seminggu dialami pada Maret 2018, sisa tiga minggu lebih tercerminnya ke inflasi April yang naik 200 Rupiah,” tutur Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar mengawali pemaparan rilis BPS Sulteng, Rabu (2/5), di kantor BPS Sulteng.

Per 24 Maret 2018 katanya, harga Pertalite dan solar non-subsidi naik masing-masing Rp 200 per liter. Harga solar non-subsidi naik menjadi Rp 7.700 per liter dari sebelumnya Rp 7.500 per liter. Sementara harga Pertalite naik menjadi Rp 7.800 per liter.

Sebelumnya harga Pertalite hanya Rp 7.600 per liter. Sejak Januari 2018 Pertamina telah menaikkan harga Pertalite sebanyak dua kali. Pada 20 Januari 2018, Pertamina menaikkan harga Pertalite sebesar Rp 100 per liter menjadi Rp 7.600 per liter.

Alhasil, kenaikan harga pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir.

Selain bensin, komoditas penyumbang inflasi terbesar masih dipegang oleh bahan makanan yakni sebesar 3,50 persen. Pada kelompok bahan makanan tersebut, Ikan Cakalang menjadi penyumbang terbesar terjadinya inflasi di Kota Palu, yakni sebesar 0,28 persen, disusul ikan Selar 0,17 persen serta bawang merah sebesar 0,15 persen.

“Dua komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi tapi andilnya di bawah 0,10 persen adalah ikan laying dan bensin tapi masuk dalam lima komoditas penyumbang inflasi,” ujarnya.

Sementara itu, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan merupakan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi. Sandang memberikan andil deflasi sebesar -0,39 persen, disusul kesehatan -0,22 persen, pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar -0,03 persen. Terakhir, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan memberikan andil sebesar -0,09 persen.

(fit/Palu Ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital