Sabtu, 8 Agustus 2026

Indonesia Masuk 10 Negara Paling Tidak Menarik di Sektor Migas

PALU EKSPRES, JAKARTA – Fraser Institute melakukan survei terkait investasi di sektor migas kepada pihak eksekutif dan manajer di industri perminyakan. Para responden ditanyakan mengenai hambatan investasi untuk hal eksplorasi dan fasilitas minyak dan gas (migas) di berbagai negara di dunia.

Sebanyak 256 responden berpartisipasi dalam survei ini. Survei dilakukan kepada 80 negara yang memegang 58 persen cadangan migas dunia dan menyumbang 68 persen para produksi global.

Hasil survei lembaga independen yang dilakukan akhir 2018 ini menyebutkan Indonesia masuk dalam jajaran negara paling tidak menarik untuk berinvestasi di sektor migas. Sembilan lainnya yakni Venezuela, Yaman, Tasmania, Victoria, Libya, Iraq, Ekuador, New South Wales, dan Bolivia.

Faktor-faktor seperti tarif pajak yang tinggi, kewajiban regulasi yang mahal, ketidakpastian atas peraturan lingkungan, dan interpretasi dan administrasi peraturan yang mengatur industri perminyakan “hulu”, serta kekhawatiran terhadap stabilitas politik dan keamanan personel dan peralatan, menjadi pertimbangan terhadap hasil survei.

Hasil laporan lembaga survei asal Kanada ini juga menyebutkan, dari 11 negara dengan cadangan minyak terbesar, lima paling menarik untuk investasi adalah Texas, Rusia, Alberta, Mesir dan Mozambik. Alberta menjadi kelompok yuridiksi Kanada dengan pemegang cadangan terbesar. Sedangkan Venezuela menjadi negara paling kurang menarik untuk investasi global.

Sementara itu, dari 36 wilayah yuridiksi dengan cadangan minyak menengah, 10 yang paling menarik adalah Oklahoma, Wyoming, North Dakota, US Offshore-Teluk Meksiko, Inggris-Laut Utara, Louisiana, Oman, Norwegia-Laut Utara, Norwegia-Lepas Pantai Lainnya (kecuali Laut Utara), dan New Mexico.

Selanjutnya, dari 29 kelompok yuridiksi dengan cadangan minyak paling kecil, 10 diantaranya yakni Kansas, Alabama, Montana, Mississippi, Inggris-Lainnya Lepas Pantai (kecuali Laut Utara), Manitoba, Saskatchewan, Utah, Australia Selatan, dan Nova Scotia.

(han/jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital