PALU EKSPRES, PALU – Stunting atau gizi buruk umumnya terjadi karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Sementara Unicef mendefinisikan sebagai masalah gizi kronis lantaran kekurangan asupan gizi dalam kurun waktu lama.
Stunting bahkan terjadi sejak anak dalam kandungan. Namun biasanya baru terlihat ketika beranjak usia dua tahun. Selain menghambat pertumbuhan, gejala stunting juga terkait perkembangan otak yang tidak maksimal.
Hal itu menjadi penyebab kemampuan mental dan belajar anak menjadi kurang yang berujung pada buruknya prestasi. Selain itu, dalam kondisi lain, kurang gizi juga dianggap sebagai salahsatu faktor resiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.
Demikian pelaksana tugas (Plt) Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Tenni C Soriton membuka pertemuan kemitraan program bina keluarga balita (BKB) dengan lintas sektor, Kamis 21 Februari 2019 di kantor BKKBN Sulteng.
Tenny menjelaskan, penurunan stunting menjadi salahsatu program prioritas nasional mengingat jumlah anak pengidap stunting tiap tahun semakin meningkat. Berdasarkan data Unicef (2016) jumlah anak stunting tahun 2013 di Indonesia sudah mencapai 8.916.656. paling tinggi di negara negara Asean.
Karena itu kata dia, tahun 2018 pemerintah mengambil langkah membentuk tim intervensi terintegrasi dengan melibatkan beberapa Kementerian dan lembaga terkait, termasuk BKKBN dalam proyek nasional promosi 1000 hari pertama kelahiran (HPK) dan KIE dalam upaya penurunan jumlah stunting.
Proyek ini menyasar 100 kabupaten kota dan 100 desa di Indonesia. Kebetulan salahsatunya Kabupaten Banggai Sulteng.
“Dan untuk tahun 2019 kabupaten Parigi Moutong juga termasuk salahsatu kabupaten dengan angka stunting tertinggi,”jelasnya.
Kunci keberhasilan pengasuhan anak menurut dia berada ditangan orang tua.Mengingat peran strategis itu, orang tua dituntut meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membina tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. Tujuannya untuk menjaga kelambu hidup ibu dan bayi.
“Karena angka kematian ibu melahirkan bukan hanya menjadi tragedi bagi ibu sendiri. Tapi berpei buruk bagi keluarga lain khususnya anak-anak,”sebutnya.
Berangkat dari permasalahan diatas, BKKBN lanjut Tenny menggalakkan program bina keluarga balita (BKB) untuk menjadi wadah kegiatan bagi orang tua dan anggota keluarga yang punya balita. Dalam kelompok BKB terdapat kegiatan penyuluhan dari kader BKB tentang berbagai pengetahuan,sikap dan perilaku orang tua dalam pengasuhan dan pembinaan anak.
Serta upaya pemenuhan dasar dari pemerintah yang pelayanannya dilakukan secara holistik integratif dan bersinergi. Mencakup semua kebutuhan esensial anak. Naik dari aspek perawat, kesehatan, dan gizi melalui pos pelayanan terpadu.
Aspek pendidikan melalui penduduk anak-anak usia dini. Aspek pengasuhan melalui BKB.
“Seluruh kegiatan pengembangan anak usia dini holistik integratif ini diatur dalam peraturan presiden nomor 60 tahun 2013,”demikian Tenny.
Pertemuan kemitraan program BKB lintas sektor terkait sendiri diikuti 30 peserta dari berbagai pihak terkait. Diantaranya TP PKK Provinsi Sulteng, dinas PPKB, Paud dan pendidikan masyarakat, kader BKB, PLKB Kota Palu. Aisyiyah Sulteng, muslimat NU, persatuan wanita Kristen Indonesia. Perwakilan Jalasenastri Lanal IV Palu, Persit Kartika Candra Kirana dan PPKS Kencana Sulteng.
(mdi/palu ekspres)






